BANDA ACEH – Penanews.co.id — Sosiolog sekaligus pengamat politik, Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, M.A, mengajak generasi muda Aceh untuk tidak bersikap apolitis. Ia menekankan bahwa politik merupakan ruang pengabdian krusial yang menentukan arah masa depan daerah.
Pernyataan tersebut disampaikan Humam dalam acara Sosialisasi Pendidikan Politik yang diselenggarakan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Banda Aceh di Hotel Hanifi, Selasa (23/6/2026).
Sosiolog asal Universitas Syiah Kuala Banda Aceh ini menegaskan, “Jika anak-anak muda Aceh yang baik memilih menjauh dari politik, maka ruang itu akan diisi oleh orang lain. Karena itu jangan hanya menjadi penonton atau komentator. Jadilah bagian dari solusi dan perubahan,” tegas Humam.
Ia menjelaskan bahwa keterlibatan politik dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti aktif di organisasi kemasyarakatan, komunitas kepemudaan, atau menjadi relawan sosial.
Humam kemudian mencontohkan politisi New York, Zohran Mamdani, yang membangun kepercayaan publik melalui kerja nyata di akar rumput sebelum melangkah ke panggung politik yang lebih tinggi.
“Kepercayaan publik tidak dibangun melalui pencitraan semata, tetapi melalui kehadiran dan kerja nyata yang dirasakan masyarakat,” tambahnya.
Perspektif berbeda disampaikan oleh Said Muniruddin, S.E., M.Sc., Ak. Rektor Suficademic. Dalam sesi pengayaan spiritual, ia mengajak peserta memahami politik sebagai sarana menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
Menurutnya, politik yang dijalankan dengan nilai-nilai spiritual akan melahirkan kepemimpinan yang berintegritas dan berorientasi pada pelayanan publik.
“Menjadi politisi yang baik adalah menjadi seorang nabi dalam makna pengabdian, yakni bekerja untuk kemaslahatan umat. Ada masyarakat yang harus diurus, ada amanah yang harus ditunaikan, dan ada masa depan yang harus diperjuangkan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa politik sejatinya bukan semata-mata perebutan kekuasaan, melainkan instrumen untuk menghadirkan keadilan, kesejahteraan, dan pelayanan terbaik bagi masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, Anggota DPRK Banda Aceh, Syarifah Munirah, S.Ag. mengingatkan pentingnya menjadi pemilih yang cerdas dan bertanggung jawab.
Ia mengajak masyarakat untuk menentukan pilihan berdasarkan program, kapasitas, integritas, serta rekam jejak calon pemimpin, bukan karena pengaruh hoaks, sentimen sesaat, ataupun politik uang.
“Politik uang hanya akan melahirkan pemimpin yang tidak amanah dan pada akhirnya merugikan masyarakat. Masa depan daerah jauh lebih berharga daripada keuntungan sesaat,” katanya.
Syarifah juga mendorong perempuan dan generasi muda untuk mengambil peran lebih aktif dalam mengawal jalannya pemerintahan, mengawasi pelaksanaan janji politik, serta menjadi mitra strategis dalam pembangunan daerah.
Kegiatan yang bertema “Membangun Generasi Politik yang Cerdas, Berintegritas, dan Berorientasi pada Kepentingan Publik” dibuka oleh Staf Ahli Pemerintah Kota Banda Aceh, Dr. Samsul Bahri, M.Si, Kegiatan ini diikuti oleh 70 peserta dari unsur tokoh masyarakat, pemuda, perempuan, aktivis partai, serta mahasiswa.
Dalam arahannya Dr. Samsul Bahri, M.Si, menegaskan bahwa pendidikan politik merupakan proses yang harus dilakukan secara berkelanjutan dan tidak hanya hadir menjelang momentum pemilu.
“Demokrasi yang sehat membutuhkan warga yang memahami hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Karena itu, pendidikan politik harus terus diperkuat agar masyarakat mampu berpartisipasi secara cerdas dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Politik Dalam Negeri Kesbangpol Kota Banda Aceh, Drs. Nata Kurniawan, MM, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Kesbangpol dalam meningkatkan literasi politik masyarakat serta mencegah berkembangnya praktik-praktik politik yang tidak sehat.
Menurutnya, kualitas demokrasi sangat ditentukan oleh kualitas pemilih. Karena itu, masyarakat perlu dibekali pemahaman yang memadai agar mampu berpartisipasi secara kritis, rasional, dan berorientasi pada kepentingan publik.[]







