YOGYAKARTA – Penanews.co.id – Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Gadjah Mada (Mapagama) berhasil menyelesaikan eksplorasi gua di Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan melalui Tim Siruleang dalam rangkaian kegiatan Gladimadya Caving.
Kegiatan yang berlangsung dari 22 Juli hingga 3 Agustus lalu bertujuan untuk mengeksplorasi Leang Pangngi serta memetakan Gua Bidadari. Kedua gua tersebut terletak di Kawasan Karst Maros–Pangkep, merupakan kawasan karst terbesar dan terindah kedua di dunia yang telah dikukuhkan sebagai UNESCO Global Geopark.
Tim Siruleang terdiri dari Saida A. Haniya (Fakultas Farmasi, 2025) dan Muhammad Rafa R. (Fakultas Teknik, 2025), dengan Bagus Dwiputra W. (Fakultas Ekonomika dan Bisnis, 2023) sebagai pendamping, serta Ilyas Omar O. (Fakultas Filsafat, 2024) dan Saphira Dhiyaa A. (Fakultas Geografi, 2022) sebagai anggota tim tambahan.
Hani, selaku Koordinator Tim menyampaikan bahwa kesiapan menyeluruh merupakan hal penting dalam menghadapi medan bawah tanah yang tidak dapat diprediksi. Oleh karena itu, tim telah mempersiapkan baik fisik dan perencanaan sejak Maret 2026.
Selain itu, tim juga menjalin kerja sama dengan Mapala Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) dan Mahacitaka dari Makassar untuk menghadapi medan baru. “Sebagai persiapan menghadapi kondisi medan lapangan yang asing bagi tim, kami telah melakukan persiapan fisik dan perencanaan sejak Maret 2026,” ujarnya, Kamis (20/8).

Hani mengatakan bahwa tim berhasil mencapai dasar Leang Pangngi dengan kedalaman 110 meter pada 26 Juli 2026. Gua vertikal ini terbagi dalam tiga tingkatan atau pitch dengan kedalaman berbeda. Meskipun kegiatan berlangsung di musim kemarau, tim masih menemukan sedikit aliran air dari pitch dua hingga pitch tiga, sehingga menambah tantangan teknis yang harus diantisipasi di setiap jalur turun.
Kemudian lanjut Hani, Pemetaan Gua Bidadari telah diselesaikan pada 30 Juli 2026. Gua horizontal ini memiliki lorong utama sepanjang 246 meter, dilengkapi beberapa aula dan tiga percabangan.
“Ornamen Gua Bidadari didominasi oleh ornamen hidup dengan kilauan putih yang memukau, sementara tim juga berjumpa dengan fauna langka seperti cecak jari lengkung bermotif batik (Cyrtodactylus batik) dan kalacemeti (Phrynus longipes),” ujar Hani.

Rafa, selaku Koordinator Lapangan, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar selama pemetaan adalah keterbatasan jumlah personel di tengah dimensi lorong gua yang sangat bervariasi.
“Tantangan utama tim selama kegiatan lapangan adalah kurangnya personel, terutama saat pemetaan. Lebar dan tinggi lorong gua yang sangat bervariasi menambah lamanya waktu yang dibutuhkan tim untuk menyelesaikan pemetaan Gua Bidadari,” jelasnya.

Sebagai pendamping tim, Bagus menambahkan bahwa rangkaian Gladimadya ini menjadi ajang untuk mempraktikkan kembali ilmu dari Gladimula. Selain itu, kegiatan ini juga dapat mengasah kemampuan teknis yang lebih spesifik dari Divisi Caving, seperti speleologi dan Single Rope Technique (SRT), teknik yang digunakan untuk turun dan naik pada lintasan gua vertikal.
Melalui eksplorasi langsung di salah satu kawasan karst terpenting di dunia, Tim Siruleang tidak hanya berhasil menguji dan mengembangkan kemampuan teknis serta manajerial mereka, tetapi juga berkontribusi dalam memperkaya data speleologi kawasan Maros–Pangkep yang memiliki nilai ilmiah dan konservasi yang tinggi.[]
Sumber ugm.ac.id







