TEL AVIV – Penanews.co.id – Pemimpin aliansi partai-partai politik Arab di parlemen Israel (Knesset), Ahmad Tibi, menuduh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berupaya menggelar pemilihan umum ulang demi mempertahankan kekuasaannya.
Ia mendesak partai-partai oposisi menggagalkan rencana tersebut dengan segera membentuk pemerintahan baru yang dipimpin oleh Gadi Eisenkot, pemimpin Partai Yashar.
Dalam wawancara eksklusif dengan Anadolu, Tibi mengatakan Netanyahu ingin tetap menjabat sebagai perdana menteri dalam pemerintahan sementara sambil mempersiapkan perang baru terhadap Iran melalui koordinasi dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
“Saya pikir Netanyahu menginginkan pemilu ulang. Untuk saat ini, dia ingin tetap menjadi perdana menteri dalam pemerintahan sementara,” kata Tibi dikutip dari Anadolu Agency.
“Netanyahu ingin melancarkan perang terhadap Iran melalui kerja sama dan koordinasi dengan Donald Trump setelah pemilihan paruh waktu AS, kemudian menggelar pemilu lagi,” tambahnya.
Tibi mendesak partai-partai oposisi segera mengambil langkah tegas untuk mencegah skenario tersebut.
“Oposisi harus menghalangi Netanyahu dengan mengumumkan bahwa pemerintahan akan dibentuk di bawah kepemimpinan Eisenkot sebagai perdana menteri. Kami, sebagai Joint Arab List, siap membantu,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Joint Arab List tidak berniat bergabung ke dalam pemerintahan baru. Namun, partainya bersedia membantu proses pembentukan pemerintahan melalui kesepahaman dengan partai-partai oposisi.
“Kami di Joint Arab List tidak ingin masuk ke dalam pemerintahan. Kami telah berbicara mengenai pemberian dukungan penyangga bagi komunitas kami serta memungkinkan pemerintahan Netanyahu dijatuhkan dan digantikan oleh pemerintahan alternatif melalui kesepahaman dengan pihak oposisi,” katanya.
Tibi mengatakan anggota parlemen Arab akan meminta komitmen untuk memenuhi kebutuhan masyarakat mereka sebagai imbalan atas dukungan politik di parlemen.
“Hal terpenting bagi kami saat ini adalah menjatuhkan pemerintahan ini,” tambahnya.
Ia berharap para pemimpin oposisi dapat mengatasi perbedaan pandangan dan mengakhiri perselisihan internal setelah pemilihan parlemen yang berlangsung Selasa.
Tingginya partisipasi pemilih Arab gagalkan rencana Netanyahu
Tibi menyebut tingginya tingkat partisipasi pemilih Arab sebagai pencapaian politik besar yang menghalangi Netanyahu memperoleh kembali mayoritas parlemen.
“Netanyahu sangat terganggu oleh tingginya partisipasi pemilih Arab karena hal itu menghalangi dan menggagalkan rencananya untuk membentuk pemerintahan baru di bawah kepemimpinannya,” ujarnya.
“Netanyahu tidak dapat membentuk pemerintahan. Itamar Ben-Gvir tidak akan pernah lagi menjadi menteri kepolisian,” tambahnya.
Tibi mengatakan partisipasi pemilih Arab juga telah menghalangi sejumlah politisi sayap kanan jauh, termasuk Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, untuk kembali berkuasa.
“Ini merupakan pencapaian masyarakat Arab yang memiliki kesadaran politik, yang bertindak dengan kebijaksanaan dan tanggung jawab politik yang besar,” katanya.
Ia mendesak anggota parlemen Arab memanfaatkan peningkatan perolehan suara mereka untuk membantu membentuk pemerintahan alternatif.
“Kami semua ingin menggunakan kepercayaan ini, suara-suara ini, dan kursi-kursi ini untuk berkontribusi menjatuhkan pemerintahan Netanyahu dan membuka jalan bagi pemerintahan alternatif lain yang dampak buruknya lebih kecil,” ujarnya.
Bantah tuduhan kecurangan pemilu
Tibi menuduh Netanyahu dan sekutu-sekutu politiknya melancarkan kampanye terhadap pemilih Arab setelah pemilu.
“Netanyahu sedang melakukan kampanye terbuka terhadap pemilih Arab yang dapat dilihat semua orang,” katanya.
Ia membantah tuduhan dari kubu politik Netanyahu yang menyebut pemilih Arab melakukan kecurangan dalam pemilu.
“Satu-satunya alamat bagi para pencuri adalah kantor Perdana Menteri Netanyahu. Benjamin Netanyahu adalah orang terakhir yang pantas mengajari kami tentang kejujuran dan integritas,” kata Tibi.
Ia merujuk pada dakwaan korupsi yang dihadapi Netanyahu serta penyelidikan kriminal yang melibatkan sejumlah pejabat pemerintah lainnya.
Tibi mengatakan pemilih Arab tetap berpartisipasi dalam jumlah besar meskipun menghadapi berbagai keterbatasan fisik. Ia mencontohkan warga lanjut usia dan penyandang disabilitas yang tetap berupaya mendatangi tempat pemungutan suara (TPS).
Ia menuduh kubu politik Netanyahu berusaha menghambat partisipasi masyarakat Arab agar tetap dapat mempertahankan kekuasaan.
“Mereka ingin orang-orang Arab tidak memberikan suara agar mereka dapat terus memerintah. Suara kami telah menggagalkan rencana mereka,” ujarnya.
Tibi juga menuduh kampanye tersebut bertujuan menunda pengumuman hasil resmi pemilu dan mencegah pergantian Ketua Knesset Amir Ohana.
Namun, ia mengaku merasa lega setelah Komite Pemilihan Umum Pusat menyatakan bahwa berbagai tuduhan tersebut tidak akan memengaruhi pengumuman hasil pemilu.
Tanggapi kritik Netanyahu terkait kunjungan ke Qatar
Ketika ditanya mengenai unggahan Netanyahu di media sosial yang mempertanyakan kunjungannya ke Qatar dua hari sebelum pemilu, Tibi menepis kritik tersebut.
“Netanyahu mengunggah cuitan yang mempertanyakan mengapa Ahmad Tibi pergi ke Qatar dan memublikasikan foto saya di Al Jazeera,” katanya.
“Semua orang tahu bahwa saya memberikan wawancara yang ditonton jutaan orang di Al Jazeera, kemudian segera kembali. Jika saya diundang lagi, saya akan pergi dan berpartisipasi. Siapa pun yang tidak menyukainya, silakan menghadapinya sendiri,” ujarnya.
Ia kembali menegaskan bahwa Netanyahu adalah “orang terakhir” yang layak menggurui orang lain mengenai kejujuran dan integritas.
Buka peluang koordinasi dengan partai-partai Arab lainnya
Tibi mengatakan Joint Arab List terbuka untuk berkoordinasi dengan United Arab List (Ra’am) yang dipimpin Mansour Abbas guna memfasilitasi pembentukan pemerintahan alternatif.
“Kami memiliki tujuan bersama, yaitu menjatuhkan pemerintahan ini. Tentu saja, tidak ada salahnya berkoordinasi dengan saudara-saudara kami di United Arab List,” katanya.
Ia juga menepis kemungkinan Avigdor Lieberman, pemimpin Partai Yisrael Beiteinu, akan meninggalkan blok oposisi.
“Saya kira tidak demikian. Namun, ini memang selalu menjadi perilaku Lieberman setelah pemilu. Dia berusaha menekan Eisenkot dan blok Change untuk mendapatkan kesempatan menjabat sebagai perdana menteri selama periode tertentu,” kata Tibi.
Ia mengkritik sikap Lieberman yang dinilai mulai menjauh dari oposisi setelah pemilu dan menyebutnya sebagai tindakan tidak bertanggung jawab.
“Saya mendengar dia mengatakan tidak ingin duduk bersama Bibi (Netanyahu) maupun Tibi. Saya katakan, itu benar, karena saya juga tidak ingin duduk bersama Lieberman,” tambahnya.
Hasil pemilu belum menghasilkan mayoritas parlemen
Wawancara tersebut berlangsung setelah pemilihan parlemen pada Selasa berakhir tanpa memberikan jumlah kursi yang cukup bagi blok Netanyahu maupun partai-partai oposisi untuk membentuk pemerintahan secara mandiri.
Berdasarkan hasil penghitungan terbaru, blok Netanyahu memperoleh 53 kursi, partai-partai oposisi meraih 48 kursi, sedangkan partai-partai Arab mendapatkan 19 kursi dari total 120 kursi di Knesset.
Untuk memperoleh mayoritas parlemen, sebuah koalisi membutuhkan sedikitnya 61 kursi. Kondisi ini menempatkan partai-partai Arab dalam posisi yang berpotensi menentukan jalannya perundingan pembentukan pemerintahan berikutnya.
Komite Pemilihan Umum Pusat Israel mengumumkan pada Kamis bahwa penghitungan surat suara khusus telah selesai. Namun, hasil resmi final masih akan diumumkan kemudian.
Presiden Israel Isaac Herzog diperkirakan akan berkonsultasi dengan berbagai faksi politik di parlemen setelah menerima hasil resmi pemilu. Setelah itu, ia akan menunjuk seorang anggota parlemen untuk mendapatkan mandat membentuk pemerintahan baru.[]






