Satu dari Lima Ibu di RI Mengalami Gangguan Mental Postpartum

by -96 Views
Ilustrasi Ibu di RI Mengalami Gangguan Mental Postpartum | Foto Shutterstock

BANDA ACEH – Penanews.co.id – Kepala Organisasi Riset Kesehatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ni Luh Putu Indi Dharmayanti menegaskan bahwa kesehatan mental ibu merupakan bagian penting dalam pembangunan kualitas generasi masa depan yang selama ini masih kurang mendapat perhatian dan malah terlupakan dibandingkan dengan kesehatan fisik

Hal itu dipaparkan Indi dalam webinar bertajuk “Hamil dan Nifas Sehat, Jiwa Kuat: Inovasi Optimalisasi Layanan Kesehatan Jiwa Ibu” yang diselenggarakan Organisasi Riset Kesehatan BRIN bersama Kelompok Riset Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa, Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN.

Pelaksanaan webinar ini merupakan komitmen BRIN dalam mendukung kesehatan maternal melalui penguatan integrasi layanan kesehatan jiwa pada pelayanan ibu hamil dan nifas.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari kementerian, organisasi profesi, peneliti, hingga tenaga kesehatan untuk membahas tantangan kesehatan mental ibu hamil dan nifas, penguatan skrining dini, serta inovasi berbasis riset yang dapat mendukung layanan kesehatan primer secara lebih komprehensif.

Indi menegaskan, perhatian terhadap kesehatan maternal selama ini masih lebih banyak terfokus pada aspek fisik, sementara kondisi psikologis ibu kerap terabaikan.

“Selama ini perhatian kita sering lebih berfokus pada kesehatan fisik ibu dan janin. Padahal kesehatan mental ibu hamil memiliki peran yang tidak kalah penting,” ujar Indi dikutip dari laman resmi BRIN, Jumat (19/06/2026).

Indi menjelaskan bahwa kehamilan merupakan fase yang sarat tantangan emosional. Rendahnya literasi kesehatan jiwa, stigma sosial terhadap gangguan mental, serta belum optimalnya integrasi layanan kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan primer menjadi tantangan besar dalam penanganan kesehatan maternal di Indonesia.

Dirinya menekankan bahwa menjaga kesehatan mental ibu selama masa kehamilan dan pascapersalinan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendasar yang memerlukan dukungan keluarga, lingkungan, dan sistem layanan kesehatan yang responsif.

“Investasi pada kesehatan mental ibu adalah investasi bagi masa depan bangsa,” tegasnya.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Wahyu Nugraheni menyampaikan bahwa webinar ini menjadi bagian dari komitmen BRIN dalam memperkuat diseminasi pengetahuan berbasis riset dan inovasi di bidang kesehatan jiwa maternal.

Menurut Wahyu, gangguan kesehatan mental pada periode kehamilan hingga nifas masih menjadi isu kesehatan masyarakat yang signifikan, terutama di negara berkembang. Dampaknya tidak hanya dirasakan ibu, tetapi juga memengaruhi kemampuan pengasuhan anak serta perkembangan anak dalam jangka panjang.

“Banyak ibu dan keluarga yang belum memiliki pemahaman memadai mengenai tanda, gejala, serta dampak gangguan kesehatan mental selama masa kehamilan dan nifas,” ungkapnya.

Dalam sesi pemaparan riset, Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Tri Wurisastuti mengungkapkan bahwa depresi postpartum masih menjadi masalah yang belum terdeteksi secara optimal di layanan kesehatan primer.

Ia menyebutkan bahwa satu dari lima ibu pascasalin berisiko mengalami depresi postpartum, kondisi yang dapat berdampak serius terhadap kesehatan ibu maupun tumbuh kembang anak.

Menurutnya, hasil kajian BRIN menunjukkan adanya perbedaan faktor risiko depresi postpartum antara wilayah urban dan rural, meskipun komplikasi kehamilan menjadi faktor dominan yang konsisten ditemukan pada keduanya. Untuk menjawab tantangan tersebut, BRIN mengembangkan inovasi prediksi depresi postpartum berbasis machine learning melalui aplikasi PostMood.

“Inovasi ini dirancang bukan untuk menggantikan peran bidan, melainkan sebagai clinical decision support untuk memperkuat deteksi dini dan kesinambungan layanan kesehatan jiwa ibu postpartum,” jelas Tri.

Pengembangan teknologi berbasis data ini, kata Tri, menjadi bagian dari transformasi layanan kesehatan yang lebih presisi dan responsif terhadap risiko kesehatan mental ibu. Melalui pendekatan digital, deteksi dini diharapkan dapat dilakukan lebih cepat sehingga intervensi dapat diberikan secara tepat waktu.

Sementara itu, Peneliti BRIN lainnya, Rozana Ika Agustiya menyoroti pentingnya pendekatan preventif dalam menjaga kesehatan jiwa ibu hamil.

Ia menjelaskan bahwa masa kehamilan merupakan periode yang rentan terhadap depresi, kecemasan, dan stres kronis, namun masih sering terabaikan akibat stigma sosial dan rendahnya kesadaran keluarga.

Sebagai solusi preventif kata Rozana, BRIN mengembangkan inovasi “Senam Sehat Jiwa Kehamilan”, sebuah program aktivitas fisik yang dirancang untuk meningkatkan kesehatan fisik sekaligus kesehatan mental ibu hamil.

Menurutnya program ini memadukan latihan fisik ringan, relaksasi, hingga terapi tertawa untuk membantu menurunkan tingkat stres dan memperbaiki suasana hati.

“Aktivitas fisik bukan hanya bermanfaat untuk kebugaran tubuh, tetapi juga menjadi intervensi preventif bagi kesehatan mental ibu hamil,” ujar Rozana.

Inovasi tersebut dikembangkan berbasis kajian ilmiah dan telah melalui proses pengujian untuk memastikan keamanan serta efektivitasnya bagi ibu hamil. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana riset kesehatan masyarakat dapat diterjemahkan menjadi solusi praktis yang aplikatif di tingkat layanan primer.

Selain penguatan inovasi, webinar ini juga menyoroti pentingnya integrasi skrining kesehatan jiwa dalam layanan antenatal dan postnatal care. Penguatan kapasitas tenaga kesehatan, sistem rujukan yang terintegrasi, serta edukasi kepada masyarakat dinilai menjadi elemen penting dalam membangun layanan kesehatan maternal yang lebih inklusif dan responsif terhadap kesehatan mental.

Melalui forum ini, BRIN menegaskan bahwa kesehatan jiwa maternal merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan kesehatan nasional. Dengan menggabungkan pendekatan riset, teknologi, dan penguatan layanan kesehatan primer, BRIN berharap inovasi yang dikembangkan dapat mendukung terciptanya generasi Indonesia yang lebih sehat, tangguh, dan berkualitas di masa depan. (BRIN).

ya