Trump Berang, Sebut Survei Rendahnya Dukungan Warga AS atas Perang Iran ‘Palsu

by

BANDA ACEH – Penanews.co.id —Presiden Amerika Serikat Donald Trump menepis hasil jajak pendapat yang menunjukkan tren penurunan dukungan warga terhadap aksi militer AS melawan Iran.

Dalam forum bisnis di Gedung Putih, Senin (04/05/2026), Trump menegaskan bahwa hasil survei tersebut tidak dapat dipercaya dan sarat akan bias politik terhadap dirinya.

“Mereka menyodorkan jajak pendapat palsu kepada saya. Mereka melakukan survei terkait perang melawan Iran dan menyebut hanya 32 persen orang yang mendukungnya,” ujar Trump sebagaimana dikutip dari CNN.

Meski membantah hasil survei tersebut, Trump menekankan bahwa dirinya pribadi tidak menyukai peperangan. Namun, ia mengingatkan bahwa AS memiliki keunggulan militer yang tak tertandingi.

“Saya pribadi tidak menyukai perang. Tapi kita memiliki perlengkapan terbaik dan militer terhebat di dunia,” lanjutnya.

Trump berpendapat hasil survei akan berbeda jika responden ditanya mengenai setuju atau tidaknya mereka jika Iran memiliki senjata nuklir. Namun, ia kemudian menyimpulkan bahwa apa pun pertanyaannya, angka yang muncul tetap akan buruk karena sentimen negatif lembaga survei terhadap kepemimpinannya.

“Bahkan jika pertanyaannya diubah, hasilnya tetap akan 32 persen karena jajak pendapat itu memang sengaja dibuat palsu,” cetus Trump.

Belakangan ini, sejumlah lembaga riset memang merilis data yang menunjukkan mayoritas warga AS keberatan dengan eskalasi konflik di Timur Tengah. Survei Washington Post-ABC News-Ipsos yang dirilis Jumat (01/05/2026), mencatat hanya 36 persen responden yang mendukung langkah militer AS terhadap Iran.

Senada dengan itu, survei NBC News dan SurveyMonkey pada 19 April lalu menunjukkan 61 persen responden meyakini AS sebaiknya tidak mengambil tindakan militer lebih lanjut. Hingga kini, belum dipastikan jajak pendapat spesifik mana yang memicu kemarahan Trump tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, Trump juga meremehkan kekhawatiran publik terkait lambatnya proses gencatan senjata. Ia menilai para kritikus terlalu tidak sabar.

“Kita baru terlibat konflik ini sekitar enam minggu, tapi mereka sudah bertanya ‘kenapa lama sekali?’” pungkas Trump membandingkan durasi konflik saat ini dengan perang panjang di Irak, Korea, hingga Perang Dunia II.[]

ya