Lolos Blokade AS, Kapal Kapal Tangker Raksasa Iran Angkut 1.9 juta Barel Minyak Menuju Indonesia

by
Ilustrasi, Kapal Tangker Raksasa Iran Angkut 1.9 juta Barel Minyak Menuju Indonesia | Foto Ist

BANDA ACEH – Penanews.co.id – Kapal tanker raksasa asal Iran dikabarkan telah menembus blokade laut Amerika Serikat. Saat ini, kapal tersebut sedang menuju wilayah perairan Indonesia dengan mengangkut kargo minyak mentah bernilai fantastis.

Berdasarkan laporan Times of India dan Anadolu Agency, kapal jenis Very Large Crude Carrier (VLCC) milik perusahaan NITC ini membawa lebih dari 1,9 juta barel minyak. Total muatan tersebut diperkirakan bernilai hampir US$220 juta atau setara dengan Rp3,8 triliun.

Menurut pantauan lembaga pemantau kapal tangker, TankerTrackers, kapal tersebut sukses mengelabui pengawasan ketat Angkatan Laut Amerika Serikat selama perjalanannya.

“Sebuah supertanker milik NITC yang membawa lebih dari 1,9 juta barel minyak mentah (senilai hampir US$220 juta) berhasil menghindari Angkatan Laut AS dan mencapai kawasan Timur Jauh,” demikian pernyataan TankerTrackers.

Kapal yang diidentifikasi bernama HUGE (IMO: 9357183) itu terakhir terpantau berada di lepas pantai Sri Lanka lebih dari sepekan lalu.

Saat ini, kapal tersebut dilaporkan tengah melintasi Selat Lombok di Indonesia dan bergerak menuju Kepulauan Riau.

Data pelacakan juga menunjukkan kapal itu tidak memancarkan sinyal sistem identifikasi otomatis (AIS) sejak 20 Maret, saat meninggalkan Selat Malaka.

Laporan ini muncul di tengah klaim Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyatakan Washington telah menguasai penuh Selat Hormuz dan menyebut blokade terhadap Iran sebagai “sangat berhasil”.

Meski demikian, laporan menyebut sejumlah kapal Iran masih mampu menembus blokade. Media pemerintah Iran bahkan mengklaim sedikitnya 52 kapal, termasuk 31 tanker minyak, berhasil melewati blokade dalam 72 jam.

Di sisi lain, militer AS menyatakan telah mencegat atau memaksa sekitar 41 kapal terkait Iran untuk berbalik arah sejak blokade diberlakukan.

AS juga mengklaim kebijakan tersebut telah menyebabkan kerugian miliaran dolar bagi Iran dan membatasi ekspor minyak negara tersebut secara signifikan.

Blokade yang mulai diberlakukan pada 13 April itu merupakan bagian dari upaya menekan Iran secara ekonomi dan strategis, terutama di jalur vital Selat Hormuz yang mengalirkan sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas global.[]

ya