LIMA belas menit ternyata cukup untuk mengubah cara Ariko Albar Fathurrahman memandang buku. Siswa kelas X.2 MAN 1 Kota Tangerang itu semula menganggap membaca novel sebagai kegiatan yang membosankan.
Namun, Rabu (14/10/2026) pagi, lima halaman membuatnya penasaran.
Hari itu, Ariko mengikuti 15′ Liter Bening (Lima Belas Menit Literasi Baca Hening), kegiatan yang digelar MAN 1 Kota Tangerang untuk menumbuhkan kebiasaan membaca siswa. Ia membawa Bumi, novel karya Tere Liye milik ibunya.
“Awalnya saya kira membaca novel itu sangat membosankan. Biasanya, saya membaca tanpa membayangkan gambaran dari cerita yang sedang dibaca. Tapi saat program 15′ Liter Bening dimulai, saya mencoba membaca novel Bumi karya Tere Liye, milik ibu saya,” tutur Ariko.
Pagi itu, membaca tidak dilakukan di perpustakaan atau ruang kelas. Lapangan madrasah menjadi ruang baca bersama.
Di atas terpal biru yang terbentang, ratusan siswa berseragam pramuka duduk berdampingan. Matahari baru naik. Sebelum membuka buku pilihan masing-masing, mereka mengawali pagi dengan tadarus Al-Qur’an.
Suara lantunan ayat suci terdengar bersahutan. Setelah tadarus selesai, kegiatan pagi beralih dari membaca kalam Ilahi menuju buku-buku yang telah mereka bawa.
Suasana yang semula tenang kemudian kembali riuh ketika seorang guru berbaju biru berdiri di depan siswa.
“Rabu seru bersama buku!”
Seruan itu disambut kompak. Para siswa mengikuti gerakan yang dicontohkan sang guru.
Guru tersebut adalah Evi, Kepala Perpustakaan MAN 1 Kota Tangerang sekaligus pendamping kegiatan 15′ Liter Bening. Setelah membangkitkan semangat siswa, Evi memberikan arahan singkat.
“Pada hitungan ketiga, kalian akan membaca hening. Buat yang berisik akan menemani Ibu di depan!” katanya.
Satu, dua, tiga.
Lapangan yang beberapa saat sebelumnya riuh mendadak sunyi.
Satu Lapangan, Banyak Cerita
Kepala-kepala mulai menunduk. Halaman demi halaman dibuka.
Pilihan buku para siswa beragam. Ada cerita, biografi tokoh, novel, hingga bacaan ilmiah populer. Seorang siswi berjilbab cokelat tampak serius membaca buku tentang krisis iklim. Di dekatnya, seorang siswa mengikuti kisah Nabi Yusuf. Siswa lainnya memilih novel sastra dan ensiklopedia sains.
Mereka duduk di lapangan yang sama, tetapi buku membawa masing-masing menuju perjalanan yang berbeda.
Ada yang berjumpa dengan persoalan lingkungan, ada yang menyelami kisah keteladanan, ada pula yang menjelajahi ilmu pengetahuan dan cerita.
Pemandangan serupa terlihat di antara para guru. Mereka tidak sekadar berdiri mengawasi atau memastikan siswa tetap tertib.
Para guru ikut duduk dan membaca.
Tak ada jarak antara guru dan murid dalam lima belas menit itu. Sama-sama membuka buku, sama-sama membaca dalam diam.

Keteladanan menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan. Siswa tidak hanya diminta membaca, tetapi juga melihat orang-orang yang setiap hari mendampingi mereka belajar melakukan hal yang sama.
Lima belas menit kemudian, bel kembali berbunyi.
Para siswa mulai menutup buku. Beberapa langsung merapikan bacaannya. Sebagian lainnya tampak masih ingin melanjutkan. Cerita yang belum selesai rupanya menyisakan rasa penasaran.
Percakapan kecil pun mulai terdengar.
“Kamu baca apa hari ini?”
Membaca yang semula berlangsung dalam diam kemudian berubah menjadi percakapan. Siswa mulai bertukar cerita tentang bacaan masing-masing.
Buku Ditutup, Literasi Belum Selesai
Dalam 15′ Liter Bening, menutup buku bukan berarti kegiatan selesai.
Di ujung lapangan, Tim Permata Squad mulai membagikan lembar jurnal. Evi kembali memberikan petunjuk pengisian.
Para siswa diminta menuliskan judul buku, jumlah halaman yang dibaca, serta rangkuman isi bacaan. Mereka kembali mendapat waktu 15 menit.
Kali ini tantangannya berbeda.
Apa yang baru saja dibaca perlu dituangkan kembali dalam tulisan. Siswa harus mengingat, memilah informasi yang dianggap penting, kemudian menyusunnya dengan bahasa sendiri.
Ada yang langsung menulis. Ada pula yang berhenti sejenak, mencoba mengingat isi bacaan. Sesekali beberapa siswa membuka kembali bukunya untuk memastikan bagian yang hendak dirangkum.

Meski ada ketentuan yang harus dipenuhi, siswa tetap diberi ruang untuk berkreasi. Lembar jurnal boleh dihias agar lebih menarik.
Satu per satu jurnal terisi. Tim Permata Squad kemudian berkeliling untuk mengumpulkan hasil pekerjaan dan memastikan tidak ada yang tertinggal.
Proses sederhana itu membuat kegiatan literasi tidak berhenti pada membaca. Siswa juga berlatih memahami informasi, menemukan inti bacaan, menyusun rangkuman, dan menyampaikan kembali gagasan melalui tulisan.
Lima Halaman yang Berlanjut di Rumah
Di antara ratusan siswa pagi itu, Ariko menemukan pengalaman baru dengan bukunya.
Selama 15 menit membaca hening, ia membuka Bumi dari halaman 5 hingga halaman 10.
Awalnya ia membaca karena mengikuti kegiatan. Namun, perlahan ia mencoba lebih fokus dan membayangkan kejadian demi kejadian dalam cerita.
Novel yang sebelumnya ia kira membosankan mulai terasa berbeda.
Lima halaman itu ternyata belum cukup.
Sepulang dari madrasah, tidak ada lagi guru yang mengingatkan Ariko untuk membaca. Tidak ada pula hitungan satu, dua, tiga dari lapangan.
Namun, ia kembali membuka Bumi.
Rasa penasaran membawanya melanjutkan bacaan dari halaman 11 hingga halaman 20.
“Dari situ saya jadi tertarik membaca lagi. Sedikit demi sedikit, akhirnya saya melanjutkan novel ibu saya di rumah,” katanya.
Ariko juga mulai merasakan manfaat lain. Menurutnya, membaca membuat pikirannya lebih rileks sekaligus membantunya menemukan ide dan menjaga konsentrasi.
“Menurut saya, membaca buku bisa membuat otak lebih santai. Saya juga bisa berpikir lebih kreatif saat menulis dan menjadi lebih fokus,” ungkapnya.
Menumbuhkan Kebiasaan dari 15 Menit
Pengalaman Ariko mungkin tampak sederhana. Ia tidak langsung menamatkan satu buku. Ia juga tidak membaca puluhan halaman dalam satu waktu.
Hanya lima halaman di lapangan madrasah.
Namun, dari lima halaman itulah muncul keinginan untuk membaca sepuluh halaman berikutnya di rumah.
Cerita Ariko menunjukkan bahwa penguatan literasi tidak selalu harus dimulai dengan target besar. Menyediakan waktu, menghadirkan suasana yang mendukung, memberi kebebasan memilih bacaan, serta menghadirkan keteladanan dapat menjadi pintu masuk agar siswa semakin dekat dengan buku.
MAN 1 Kota Tangerang mencoba membangun kebiasaan itu melalui 15′ Liter Bening.
Tak harus selalu di perpustakaan. Lapangan sekolah pun bisa menjadi ruang membaca. Tak harus dengan fasilitas mewah. Pagi itu hanya ada terpal biru, buku-buku yang dibawa siswa, lembar jurnal, serta guru yang ikut duduk membaca bersama mereka.
Tentu, kebiasaan membaca tidak lahir dalam satu pagi. Ia membutuhkan pengulangan agar perlahan menjadi bagian dari keseharian.
Namun, mungkin ukuran keberhasilan sebuah gerakan literasi bukan hanya berapa halaman yang berhasil dibaca dalam lima belas menit.
Ada ukuran lain yang lebih sederhana: ketika lima belas menit berakhir, adakah seorang anak yang masih penasaran dengan halaman berikutnya?
Ariko sudah menemukan jawabannya. Dari halaman 5 sampai 10 di lapangan MAN 1 Kota Tangerang, ia membawa rasa penasaran itu pulang dan membuka halaman 11 hingga 20. Dari lima halaman, tumbuh keinginan untuk membaca lagi.(Nur Rohmah/Humas Kanwil Kemenag Provinsi Banten)
Sumber artikel Kemenag.go.id







