4 Anggota Meninggal Saat Banjir: Group Rapai Muda Seudang Kembali Latihan di Bawah Rembulan Beralas Tikar, Ini Asal-usulnya

by

LHOKSUKON – Penanews.co.id – Suara tabuhan rapa’i malam itu terdengar sedikit berbeda di Gampong Paloh Raya, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara. Nada-nadanya tidak lagi sekadar ketukan berirama, melainkan sebuah simfoni ketabahan. Setelah 10 bulan vakum dari riuh latihan dan pentas akibat duka yang mendalam, kelompok seni budaya Muda Seudang akhirnya kembali menabuh asa.

Malam itu, tidak ada atap megah yang menaungi mereka. Balee Rapa’i—tempat yang selama bertahun-tahun menjadi saksi isu lahirnya para penabuh andal—telah lenyap disapu banjir bandang hampir setahun lalu.

Menggelar tikar seadanya di atas puing-puing bangunan sisa bencana, mereka berlatih langsung di bawah temaram sinar rembulan.

Bencana banjir itu tidak hanya menghanyutkan bangunan fisik. Bersamanya, sirna pula perlengkapan berharga milik kelompok ini: 22 unit rapa’i, rotan pengikat (seudak), tikar, kasur, hingga empat model kostum panggung masing-masing sebanyak 22 helai, lengkap dengan songket dan kain ikat kepalanya.

Namun, kehilangan materi tak ada apa-apanya dibanding luka batin yang ditinggalkan. Banjir maut tersebut merenggut nyawa empat anggota terbaik Muda Seudang yang ditemukan meninggal dunia beberapa hari pasca-kejadian.

Kepergian Zulfachri A. Djalil, Juanda Marzuki, M. Syahril Muslem, dan Syahrul Nurdin sempat menghentikan detak nadi kelompok seni ini dalam keputusasaan yang panjang.

Kini, di tengah keterbatasan dan bayang-bayang trauma, sebuah fajar baru perlahan terbit. Kehidupan harus terus berjalan, dan warisan indatu tidak boleh padam.

“Ini yang sedang kami latih ini semuanya anggota baru, anak-anak usia Sekolah Dasar, generasi ke enam Muda Seudang,” ujar Salman (27), salah seorang pengurus grup Rapa’i Muda Seudang, dengan mata berbinar menatap masa depan kelompoknya.

Langkah merangkul anak-anak sekolah dasar ini bukan tanpa alasan. Di era digital saat anak-anak mudah larut dalam gawai, Salman dan pengurus lainnya melihat celah untuk menyelamatkan dua hal sekaligus: masa depan anak-anak gampong dan eksistensi budaya Aceh.

“Saya pikir daripada mereka main HP habisin paket, lebih baik mereka menjaga seni budaya sendiri dengan bermain rapa’i,” ungkap Salman bijak.

Semangat baru itu terpancar jelas dari Alif, salah satu anak sekolah dasar yang kini tergabung dalam generasi keenam Muda Seudang. Jari-jari mungilnya tampak bersemangat memukul bidang kulit rapa’i, mencoba menyamai ritme pukulan abang-abang seniornya terdahulu.

“Dulu waktu banjir kami semua takut sekali. Tapi sekarang, kalau kami pukul rapa’i ramai-ramai seperti ini, rasa takutnya hilang. Kami ingin buat kampung ini ramai dan ceria lagi seperti dulu waktu ada almarhum abang-abang (korban banjir),” bisik Alif polos, sambil menyeka keringat di dahinya di bawah temaram bulan.

Di atas puing-puing, di bawah saksi bisu sang rembulan, tangan-tangan mungil generasi keenam itu terus memukul membran rapa’i. Ritme yang mereka hasilkan malam itu adalah penegas, bahwa dari tanah Paloh Raya yang sempat luluh lantak, bait-bait selawat dan seni tradisi Aceh akan tetap hidup, abadi, dan menolak untuk tenggelam.

Profil & Sejarah Singkat Sanggar Muda Seudang

Asal-usul & Jejak Langkah:Grup Rapa’i Muda Seudang merupakan sanggar seni tradisional kebanggaan masyarakat Gampong Paloh Raya, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara. Sebagai penjaga warisan leluhur (indatu), kelompok ini berfokus pada kelestarian Rapa’i Puloet Geurimpheng—sebuah kesenian khas Aceh yang memadukan keahlian memukul instrumen rapa’i secara ritmis, gerakan tarian yang dinamis dan serentak (cakrum), serta lantunan syair-syair selawat dan pesan moral keislaman oleh seorang Syahi (penyair).

Regenerasi yang Kokoh:Kelompok ini mempertahankan keaslian budayanya secara turun-temurun melalui sistem kekeluargaan yang erat di dalam gampong. Hingga sebelum bencana melanda, mereka telah berhasil mendidik dan melahirkan enam generasi penabuh.

Prestasi & Panggung Terbesar:Nama Muda Seudang mencatatkan sejarah emas saat mereka terpilih mewakili daerahnya dan sukses tampil menghentak panggung utama pada perhelatan akbar Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-8.

Penampilan memukau dari belasan seniman mudanya kala itu sukses menuai histeria dan decak kagum dari puluhan ribu penonton, yang membuktikan bahwa sanggar tingkat gampong ini memiliki kualitas seni bertaraf provinsi.

Mendiang Koordinator:Kesuksesan besar tersebut tidak lepas dari dedikasi dan tangan dingin almarhum Zulfachri A. Djalil, yang bertindak sebagai koordinator sanggar sekaligus salah satu korban yang meninggal dunia dalam bencana banjir tersebut. Latihan di bawah rembulan ini menjadi wujud penghormatan generasi penerus demi melanjutkan mimpi-mimpi besar para syuhada budaya mereka.[kanal Pemkab Aceh Utara]

ya