Biaya Tinggi dan Antrean, Muhammadiyah Soroti Fenomena Perjalanan Haji dengan cara Ekstrem

by

BANDUNG — Meskipun menghadapi biaya tinggi dan antrean panjang, niat sebagian warga negara Indonesia (WNI) untuk menunaikan ibadah haji sebagai rukun Islam kelima tetap tak tergoyahkan. Berbagai cara unik dan ekstrem pun ditempuh, mulai dari berjalan kaki hingga menggunakan perahu berbahan galon air.

Fenomena ini menarik perhatian publik, termasuk organisasi Muhammadiyah.

Dua warga asal Demak, Jawa Tengah, menjadi sorotan setelah video mereka viral di media sosial. Dalam video yang diunggah di akun TikTok @mbah.mo195, keduanya menyatakan niat mereka untuk berjalan kaki menuju Makkah.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, kami dari Demak berjalan kaki ke Makkah. Semoga selamat sampai tujuan,” ujar salah satu dari mereka berdasarkan dari Beritasatu.com. Dengan hanya membawa tas ransel hitam dan bendera Merah Putih, perjalanan ini mengundang reaksi beragam dari masyarakat.

Tak hanya berjalan kaki, aksi ekstrem lainnya dilakukan oleh dua warga Banyuwangi, Dwian Rahardi Pamungkas dan Kholili Anam. Mereka memilih berangkat ke Makkah dengan menaiki perahu yang terbuat dari galon air. Sebelum berlayar, mereka menggelar doa bersama dan memotong tumpeng sebagai bentuk syukur dan harapan akan keselamatan selama perjalanan.

“Kita sangat yakin bisa sampai tujuan karena sebelumnya sudah melakukan riset,” ujar Dwian dalam unggahan akun TikTok @aini.vlog.

Menanggapi fenomena ini, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dadang Kahmad, memberikan pandangannya kepada tim Muhammadiyah.or.id pada Rabu (26/02).

Menurut Dadang, kehidupan yang semakin materialistis dan hedonis turut mempengaruhi pola pikir masyarakat, termasuk dalam urusan ibadah. “Segala bisa dijadikan ladang uang, termasuk haji, umrah, dan makam mewah,” ujarnya.

Dadang menilai bahwa perjalanan haji dengan berjalan kaki atau menaiki perahu galon bukanlah pilihan murah jika dihitung dari segi transportasi, akomodasi, dan konsumsi. Ia pun mempertanyakan apakah aksi tersebut murni didorong oleh niat ibadah atau sekadar mencari sensasi.

Baca Juga:  Mahfud Tegaskan akan Gugat ke MK Hasil Pilpres 2024, Klaim Punya Bukti Kuat

“Memang bisa dipahami kenapa mereka bertindak begitu. Bisa saja mereka kehilangan harapan karena harus menunggu antrean hingga 20 tahun untuk haji reguler atau lima tahun untuk haji plus,” tambahnya.

Dalam konteks dakwah, Dadang menekankan pentingnya memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat tentang ibadah haji dan cara mencapainya dengan bijak. “Mereka harus disadarkan bahwa mengandalkan popularitas tidaklah abadi. Yang abadi adalah etos kerja dan ketakwaan kepada Allah SWT,” tutur Dadang.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *