Yakuza Maneges Beraksi, Pelecehan Seksual oleh Pimpinan Pedepokan Terbongkar

by

BANDA ACEH – Penanews.co.id – Tabir gelap mengenai dugaan pelecehan seksual di sebuah padepokan di wilayah Pekalongan akhirnya mulai terungkap ke permukaan. Praktik menyimpang yang disinyalir sudah terjadi selama bertahun-tahun ini mencuat setelah para korban beserta keluarganya berani mengadu ke organisasi Yakuza Maneges, yang kini bertindak sebagai pendamping dan pengawal kasus tersebut.

Menindaklanjuti laporan yang ada, aparat kepolisian bergerak cepat dengan mengambil alih penanganan kasus ini. Demi kelancaran proses hukum dan penyelidikan lebih lanjut, terduga pelaku saat ini juga telah resmi diamankan oleh petugas.

Sebelum kepolisian mengevakuasi terduga pelaku, pimpinan Yakuza Maneges, Gus Thuba Topo Broto Maneges, sempat mendatangi langsung lokasi kejadian pada Rabu pagi (27/5). Kedatangannya bertujuan untuk meminta klarifikasi dan meminta penjelasan dari pihak pengelola pondok terkait isu yang beredar.

Gus Thuba membeberkan bahwa aduan yang masuk ke organisasinya tidak hanya berasal dari satu atau dua orang saja. Sebaliknya, laporan dari berbagai pihak yang merasa dirugikan terus mengalir secara berturut-turut.

Menurut Gus Thuba Banyaknya laporan yang masuk memicu dugaan kuat bahwa kasus ini merupakan fenomena gunung es, di mana jumlah korban sebenarnya jauh lebih besar. Ditengarai, masih banyak korban lain yang memilih bungkam akibat adanya intimidasi, ancaman, serta rasa takut yang mendalam selama ini.

Mengutip batik tv, berdasarkan penuturan Gus Thuba, beban mental yang dipikul oleh para korban sangatlah berat. Tekanan psikologis tersebut bahkan sudah mereka rasakan dan pendam dalam kurun waktu yang cukup lama.

“Kalau sampai speak up, ancamannya macam-macam,” ungkapnya.

Tak hanya ancaman secara langsung, korban juga disebut mengalami intimidasi yang bersifat non-logis, yang semakin memperkuat rasa takut untuk mengungkap kebenaran.

Gus Thuba menambahkan bahwa terduga pelaku menggunakan dalih kepatuhan terhadap kiai sebagai alat untuk menekan korban.

Korban yang mencoba menolak justru dianggap sebagai santri yang membangkang.

“Kalau nolak, dianggap tidak taat. Bahkan diancam hidupnya tidak akan tertata,” jelas Gus Thuba.

Mayoritas korban yang berani melapor saat ini merupakan alumni lama. Sementara santri yang masih aktif diduga masih berada dalam tekanan dan belum memiliki keberanian untuk berbicara.

Di balik pengungkapan kasus ini, perhatian publik juga tertuju pada sosok dan organisasi Yakuza Maneges.

Nama “Yakuza” yang identik dengan dunia keras, justru kini bergerak dalam arah yang berbeda mengalami transformasi nilai menuju sesuatu yang lebih bermakna.

Bagi Gus Thuba, perjalanan Yakuza Maneges adalah perjalanan perubahan.

Yakuza Maneges di bawah pimpinan Gus Thuba Topo Broto Maneges yaitu Yakuza yang singkatan dari “Yang Awalnya Kotor Ujungnya Zuhud Abadi”. Dari yang dulu dikenal “keras”, kini diarahkan menuju nilai-nilai zuhud abadi menjadi gerakan yang merangkul, membenahi, dan menegakkan kebenaran.

Yakuza Maneges tidak hanya hadir untuk membongkar kasus, tetapi juga membawa misi yang lebih besar: Menegakkan amar ma’ruf nahi munkar Menjunjung nilai kemanusiaan (humanity) Mendorong keadilan sosial (social justice), Melindungi kaum lemah dan tertindas, Membela mereka yang benar, meski tidak memiliki kekuatan. 

“Kalau yang lain tidak berani, kami yang maju,” tegas Gus Thuba.

Tak hanya berhenti pada pengungkapan, Yakuza Maneges juga terlibat dalam pendampingan korban, mulai dari proses pelaporan hingga penguatan mental.

Organisasi ini juga telah berkoordinasi dengan pihak Ditres PPA Polda Jawa Tengah guna memastikan korban mendapatkan perlindungan dan penanganan yang layak.

“Kami akan kawal sampai selesai. Ini bagian dari amar ma’ruf nahi munkar,” tegasnya.

Kasus ini kini menjadi sorotan publik dan membuka ruang bagi korban lain untuk berani bersuara.

Dengan terbukanya kasus ini, diharapkan tidak ada lagi ruang aman bagi pelaku kejahatan, terutama yang berlindung di balik kekuasaan dan simbol keagamaan.

Sementara itu, aparat kepolisian masih terus melakukan pendalaman dan tidak menutup kemungkinan jumlah korban akan terus bertambah seiring keberanian para korban untuk melapor.[]