BANDA ACEH – Penanews.co.id – Komando Aneuk Muda Alam Peudeung (Komandan) Al Asy bersama Yayasan Sultan Alaiddin Mansyursyah menggelar Focus Group Discussion (FGD) “Alam Peudeng Sebagai Pemersatu” Sabtu, di Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I, Sabtu (06/06/2026) di Banda Aceh.
FGD yang dimoderatori oleh ustadz Mujiburrizal ini menghadirkan empat pemateri yang terdiri dari: akademisi dan cendikiawan muslim Aceh yang juga mantan Rektor UIN Ar-Raniry Prof. Yusni Sabi, Direktur Rumah Manuskrip Aceh Tarmizi A Hamid, Pang Ulee Komandan Al Asyi Tuanku Warul Waliddin, serta Korwil BEM-SI Aceh Tengku Raja Aulia Habibi.
Ketua Yayasan Sultan Alaiddin Mansyursyah yang juga Pang Ulee Komandan Al Asyi, Tuanku Warul Waliddin memaparkan, spirit Alam Peudueng sebagai pemersatu Aceh perlu digali. Pada masa lalu Alam Peudeung bukan hanya sebagai bendera Kesultanan Aceh Darussalam, tapi ia juga simbul pembebasan Kawasan Semenanjung Melayu dari dari penjajahan Eropa.
“Kita perlu menata spirit kajayaan masa lalu, menuju masa depan yang berkelanjutan. Dalam salah satu dari 21 wasiat Sultan Aceh ditegaskan bahwa Alam Peudueng simbol kedaulatan. Negeri yang kuat lahir dari rakyat yang beriman, berilmu, kerja keras, dan bersatu dalam keadilan. Begitu pernah disampaikan Sultan Iskandar Muda,” jelas Tuanku Warul.
Sementara itu Prof Yusni Sabi menekankan, generasi muda Aceh tidak boleh buta sejarah. Materi sejarah Aceh harus masuk dalam kurikulum untuk diajarkan di sekolah-sekolah. Banggalah dengan diri sendiri.
“Zuriat Kesultanan Aceh harus bersatu, tampil dalam masyarakat. Penyadaran sejarah penting, tapi lebih penting tindakan nyata yang memberikan dampak pada lingkungan, dari semangat Alam Peudeung sebagai pemersatu ke alam diplomasi,” kata Prof. Yusni Sabi.
Pemateri lainnya, Tarmizi A Hamid menekankan perlunya belajar dari masa lalu untuk menata masa depan yang lebih baik. Manuskrip-manuskrip Aceh masa lalu perlu dipelajari kembali, sebagai bagian dari upaya merawat ingatan, jati diri dan peradaban Aceh untuk generasi masa depan.
Pria yang sering disapa Cek Midi ini menjelaskan, Alam Peudeung sudah ada dan ditulis dalam manuskrip-manuskrip Aceh masa lalu. Warna merah pada Alam Peudeung menunjukkan keberanian, kepahlawanan, ketegasan dan kedaulatan politik Kesultanan Aceh Darussalam.
Sementara pedang yang terhunus di bagian bawah bendera tersebut menujukkan simbul penegakan keadilan, perlindungan hukum, kehormatan militer yang siaga tempur dalam mempertahankan tanah dari penjajah. Kemudian bulan bintang sebagai penanda mutlak bahwa Kesultanan Aceh Darussalam berlandaskan pada hukum Islam.
“Alam Peudeung memiliki literasi yang jelas, tertulis dalam manuskrip-manuskrip Aceh masa lalu, yang bisa dikaji dan diteliti hingga sekarang. Generasi muda Aceh perlu belajar dari sejarah,” ungkapnya.
Hal yang sama disampaikan Tengku Raja Aulia Habibi. Menurutnya, realitas sekarang banyak generasi muda Aceh yang kurang memahami sejarah Aceh secara utuh. Generasi milenial hanya paham sepenggal-sepenggal sejarah Aceh, itu pun hanya sejarah konflik Aceh dengan Republik Indonesia, sementara sejarah kebesaran Kesultanan Aceh Darussalam nyaris tidak diketahui oleh generasi muda Aceh.
“Yang kami rasakan sekarang adalah kurangnya pemahaman sejarah di kalangan generasi muda Aceh. Ini merupakan sebuah tantangan. Kami berharap forum-forum seperti ini perlu diperbanyak dan diperluas, agar generasi muda Aceh memahami sejarah bangsanya sendiri, tusoe droe, turi droe,” harapnya.[]






