BRIN ungkap Laut Jawa sebagai Penyuplai Utama Air Tawar Perairan Selatan Indonesia, Begini Analisa Ilmiahnya

by

BANDA ACEH – Penanews.co.id – Periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa Laut Jawa berperan sebagai penyuplai utama air tawar di perairan selatan Benua Maritim Indonesia, sementara Laut Banda menjadi wilayah transit utama pengumpulan massa air dari jalur Arus Lintas Indonesia (Indonesian Throughflow/ITF).

Temuan tersebut mengungkap bagaimana distribusi air tawar dan perubahan salinitas di perairan Indonesia dipengaruhi oleh interaksi curah hujan, limpasan sungai, sirkulasi laut, serta fenomena iklim global seperti El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD).

Temuan ini menjadi penting di tengah meningkatnya intensitas anomali iklim akibat pemanasan global.

Pemahaman mengenai keseimbangan salinitas dan distribusi air tawar diperlukan untuk memperbarui pemahaman tentang sirkulasi massa air di perairan Indonesia yang berperan penting dalam sistem iklim regional maupun global.

Riset tersebut dipaparkan oleh periset postdoctoral Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIA) BRIN, Amirotul Bahiyah dalam Oseanologi Talk Series Ke-7 bertajuk “Unraveling Ocean Variability: Past and Present Environment to Future Climate Dynamics”, Rabu (5/8)

Penelitian tersebut memanfaatkan pemodelan hidrodinamika beresolusi tinggi Ocean General Circulation Model for the Earth Simulator (OFES) yang dikembangkan Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC), untuk mengkaji variabilitas salinitas dan neraca air tawar tiga dimensi (3D freshwater budget) di kawasan perairan selatan Benua Maritim Indonesia.

Amirotul menjelaskan bahwa selama ini sebagian besar penelitian oseanografi di Indonesia lebih banyak berfokus pada temperatur permukaan laut. Padahal, perkembangan data satelit salinitas dan meningkatnya intensitas anomali iklim kini memungkinkan kajian yang lebih komprehensif mengenai dinamika pergerakan air tawar.

“Karena berada di wilayah khatulistiwa sebagai area ascending branch dari Walker circulation, perubahan kecil pada kondisi lautan di Indonesia akan memengaruhi iklim lokal sekaligus berdampak pada sistem iklim global seperti ENSO dan IOD,” ujar Amirotul, dikutip dari laman resmi BRIN, Minggu (9/8/2026).

Dalam penelitian tersebut, analisis dilakukan pada lapisan mixed layer depth (0–20 meter) dengan membagi wilayah kajian ke dalam empat kawasan utama, yakni Laut Jawa, selatan Selat Makassar, Laut Flores, dan Laut Banda.

Hasil simulasi menunjukkan bahwa Laut Jawa merupakan sumber utama pasokan air tawar bagi kawasan perairan selatan Indonesia. Sebaliknya, Laut Banda berfungsi sebagai lokasi akumulasi massa air yang datang dari berbagai jalur sirkulasi, termasuk Arus Lintas Indonesia.

Di Laut Banda, penelitian mengidentifikasi dua periode penurunan salinitas (freshening). Periode pertama terjadi pada Desember–Januari yang dipicu oleh curah hujan lokal melalui surface freshwater flux. Periode kedua berlangsung pada Maret–Mei dengan intensitas yang lebih besar, terutama akibat adveksi zonal yang membawa massa air tawar dari Laut Jawa dan Laut Flores menuju Laut Banda.

Sementara itu, di Laut Jawa juga terjadi dua fase freshening. Fase pertama berlangsung pada November–Desember sebagai dampak tingginya curah hujan pada awal monsun barat laut, dengan kontribusi yang relatif kecil dari aliran Laut Cina Selatan melalui Selat Karimata. Adapun fase kedua pada Maret–Mei terutama dipengaruhi oleh limpasan sungai-sungai besar di Kalimantan yang masuk melalui proses adveksi meridional.

Penelitian yang telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Journal of Geophysical Research: Oceans (JGR Oceans) ini juga menunjukkan bahwa variabilitas salinitas di perairan selatan Indonesia lebih kuat dipengaruhi oleh ENSO dibandingkan IOD. Berdasarkan analisis korelasi bulanan, perubahan distribusi air tawar sangat dipengaruhi oleh dinamika sirkulasi laut yang menyertai fase-fase ENSO.

“Pada periode El Niño kuat, sirkulasi adveksi mampu menyebarkan massa air bersalinitas rendah (freshening) secara merata dari Laut Jawa hingga mencapai Laut Banda meskipun curah hujan di daratan sedang turun. Sebaliknya, saat fenomena La Niña terjadi, distribusi air tawar cenderung tertahan dan terpusat di wilayah barat seperti Laut Jawa dan selatan Selat Makassar,” jelas Amirotul.

Menurutnya, hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa dinamika salinitas di perairan Indonesia tidak hanya dikendalikan oleh curah hujan, tetapi juga oleh proses transport massa air melalui sirkulasi laut. Temuan tersebut diharapkan dapat memperkaya pemahaman mengenai respons laut Indonesia terhadap variabilitas iklim global sekaligus meningkatkan akurasi pemodelan iklim dan oseanografi di kawasan maritim Indonesia.[]

ya