Dari BPI ke STIJNAS, TB Rahmad Sukendar Bawa Misi Besar: Cetak Generasi Kritis dan Berintegritas

by

BEKASI – Penanews.co.id – Anugerah gelar kehormatan Doctor Honoris Causa (HC) yang diterima Ketua Umum Badan Peneliti Independen Kekayaan Penyelenggara Negara dan Pengawas Anggaran Republik Indonesia (BPI KPNPA RI), TB Rahmad Sukendar, S.Sos., S.H., M.H., bukan sekadar penghargaan atas perjalanan panjang selama memimpin organisasi.

Pengukuhan dirinya sebagai Dewan Pembina Sekolah Tinggi Ilmu Jurnalistik Nasional (STIJNAS) di Kampus A, Kota Bekasi, justru membuka ruang baru untuk memperkuat pendidikan, penelitian, literasi informasi, dan pembinaan generasi muda.

Penganugerahan tersebut diserahkan secara simbolis oleh Rektor STIJNAS, H. Qodiran, bersama Pimpinan Kampus STIJNAS, H. Dadang Budiman.

Gelar kehormatan di bidang penelitian itu diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap kiprah Rahmad Sukendar selama 23 tahun memimpin BPI KPNPA RI, termasuk dalam kegiatan penelitian, pembinaan kader, sosial kemasyarakatan, serta berbagai aktivitas yang bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat.Namun bagi Rahmad, gelar bukanlah tujuan akhir.

Menurutnya, penghargaan justru harus menjadi tanggung jawab moral untuk meningkatkan kontribusi kepada masyarakat, terutama melalui pendidikan dan pembinaan generasi muda.

“Gelar ini bukan akhir dari perjuangan. Justru menjadi tanggung jawab untuk terus memberikan manfaat. Pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang berpikir kritis, memiliki integritas dan berani memperjuangkan kebenaran berdasarkan fakta,” ujar Rahmad di Kampus STIJNAS Bekasi, Minggu (09/08/2026).

Jurnalis Harus Kritis, Bukan Sekadar Pandai Menulis Rahmad menilai perkembangan teknologi digital telah mengubah wajah dunia jurnalistik. Informasi dapat menyebar dalam hitungan detik, tetapi tidak semua informasi yang beredar dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Karena itu, pendidikan jurnalistik dinilai harus memberikan penekanan lebih kuat terhadap riset, verifikasi, literasi digital, etika, dan kemampuan melakukan pemeriksaan fakta.
Seorang jurnalis, kata dia, tidak cukup hanya memiliki kemampuan menulis. Jurnalis harus mampu mencari data, melakukan konfirmasi, memahami persoalan, menguji informasi, dan memberikan informasi yang mencerdaskan masyarakat.

“Jangan sampai kecepatan mengalahkan ketepatan. Jurnalis harus menjadi bagian dari solusi, bukan justru menambah persoalan dengan informasi yang tidak terverifikasi,” tegasnya.

Menurut Rahmad, kampus memiliki posisi strategis dalam mempersiapkan generasi jurnalis yang memiliki kemampuan akademik sekaligus kepekaan sosial.

Pendidikan Harus Melahirkan Kader Bangsa
Selama memimpin BPI KPNPA RI selama 23 tahun, Rahmad menyebut banyak kader yang kemudian berkembang dan berkiprah di berbagai bidang.

Ada yang menjadi kepala daerah, anggota legislatif, pimpinan organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan, pengusaha, hingga berkarier di lingkungan TNI dan Polri.

Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan generasi muda tidak boleh dilakukan secara instan.

“Kalau kita ingin membangun bangsa, kita harus membangun manusianya terlebih dahulu. Kaderisasi dan pendidikan adalah investasi jangka panjang,” katanya.

Ia berharap sinergi BPI KPNPA RI dengan STIJNAS dapat menjadi wadah untuk memperluas pendidikan masyarakat, meningkatkan kemampuan penelitian, serta melahirkan generasi muda yang memiliki keberanian berpikir dan bertindak berdasarkan ilmu pengetahuan.

STIJNAS Diharapkan Jadi Pusat Pendidikan Jurnalistik Berintegritas

Rektor STIJNAS, H. Qodiran, mengatakan kehadiran TB Rahmad Sukendar sebagai Dewan Pembina diharapkan mampu memperkuat hubungan antara dunia pendidikan dan organisasi kemasyarakatan.

“Beliau memiliki rekam jejak kepemimpinan yang kuat. Kami yakin kehadiran beliau di STIJNAS akan membawa semangat baru bagi civitas akademika,” ujar Qodiran.

Sementara itu, H. Dadang Budiman selaku Pimpinan Kampus STIJNAS menilai pengalaman Rahmad dalam membangun organisasi dan melakukan berbagai kegiatan sosial serta penelitian dapat memberikan perspektif baru bagi pengembangan pendidikan jurnalistik.

Dengan bergabungnya TB Rahmad Sukendar sebagai Dewan Pembina, STIJNAS diharapkan tidak hanya menjadi tempat mahasiswa belajar teori jurnalistik, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun karakter, meningkatkan kemampuan penelitian, memahami persoalan masyarakat, serta menanamkan nilai-nilai integritas dan tanggung jawab sosial.

Momentum tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa dunia pendidikan dan jurnalistik memiliki tugas yang sama: mencerdaskan masyarakat, melawan informasi yang menyesatkan, dan melahirkan generasi yang mampu menjaga masa depan bangsa melalui ilmu, fakta, dan integritas.[Chaidir]

ya