Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan, Seremonial Ditengah Rakyat Yang Belum Merdeka

by

Oleh : Hildaryanti Djamil, Pemerhati Sosial dan Broacaster

JUJUR, sebagai warga negara Indonesia saya pribadi hingga saat ini tidak mengerti konsep kemerdekaan dan perayaan yang sesungguhnya itu seperti apa.

Lihatlah, pada hari H upacara 17 Agustus itu para peserta upacaranya yang terdiri dari siswa sekolah, ASN dan atau ormas, berbaris berpanas-panasan, penuh peluh karena disinari matahari pukul 10.00, sedangkan pejabatnya duduk manis di bawah tenda yang teduh, dengan suguhan snack, buah buahan, hingga air mineral yang berbotol kaca.

Yang lebih parahnya jasa para pahlawan yang berkorban jiwa, raga harta dan lain lain, di balas dengan hura-hura dan juga ada joget joget (seperti di istana merdeka tahun lalu), hingga lupa di ingat dan di doakan pun untuk pahlawan hanya sekedar pembacaan doa pada seremonial.

Lalu di mana letak kemerdekaan nya ? Sementara di sana sini dari segala lini hingga instansi atau lembaga sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang berbentuk peringatan hari kemerdekaan republik Indonesia ke 81, mulai dari komunitas yang mencari pernak pernik utk memakai atribut yang ada sangkut pautnya dengan logo dan warna bendera negara Indonesia.

Tidak ketinggalan hiasan di berbagai penjuru kampung hingga pertokoan pun berlomba-lomba untuk menampilkan segala sesuatu yang berbau kemerdekaan hingga terlihat meriah, termasuk pawai kemerdekaan yang di laksanakan setiap tahunnya.

Apakah peringatan hari kemerdekaan itu hanya sekedar trend atau basa basi yang di lakukan oleh sejumlah atau sekelompok orang-orang tertentu , tanpa merasakan apa arti dan nilai kemerdekaan yang sesungguhnya.

Mengutip kalimat dari karya fajar Novario “Indonesia berdaulat adil dan makmur”, rasanya apa yang di rasakan masyarakat Indonesia masi jauh sekali dengan kata kata tersebut. Menurut hemat saya, hanya kelompok kelompok tertentu yang merasakan, mendapat keadilan serta kemakmuran.

Sementara di luar sana, nasib rakyat masih sangat memprihatinkan.

Ketika perjuangan rakyat terasa seperti sebuah perlombaan yang tak kunjung usai karena pada akhirnya yang mengaku merdeka pun tetap berjuang sendiri tanpa negara.

Hal ini sama dengan menyemarakkan hari kemerdekaan yang diisi dengan aneka lomba seperti panjat pinang dan tarik tambang.

Dulu dulu menyemarakkan hari kemerdekaan RI, panjat pinang hanya sekedar lomba. Kini benar benar menjadi gambaran nyata di kehidupan rakyat.

Untuk mendapatkan hak yang paling dasar, rakyat di paksa bergotong royong, saling tumpang tindih, jatuh bangkit lalu berjuang tanpa henti untuk sekedar menyambung hidup.

Sementara para pejabat menikmati kenyamanan dari kursi kekuasaan , saat rakyat bersama sama menghadapi beban ekonomi, dan para pejabat sibuk bertepuk tangan.

Belum lagi lomba tarik tambang, hingga sesak dada menarik tambang, kemudian salah satu regu harus jatuh atau tersungkur tidak sanggup menarik tambang itu, karena lawannya terlalu kuat.

Akankah seperti itu juga hasil tambang yang melimpah di negeri ini yang hanya dinikmati oleh penguasa karena dia kuat ?

Begitulah sebuah ilustrasi dari sebuah perlombaan panjat pinang yang diadakan setiap tahunnya, sebagai bentuk perayaan, karena kemajuan sebuah bangsa harusnya di ukur dari seberapa mudah rakyat memperoleh kehidupan yg layak.

Tentunya bukan dari seberapa berat rintangan yang harus mereka panjat untuk bertahan hidup.[]


Artikel ini merupakan opini penulis, seluruh isi di luar tanggungjawab redaksi, sepenuhnya tanggungjawab penulis

ya