AROMA khas Kuah—kari daging sapi dengan potongan nangka muda dalam beulangoeng beusoe yang kaya rempah—menyeruak di antara embusan angin persawahan Seuneudon, Kabupaten Aceh Utara. Puluhan petani berbaju koko dan sarung tampak berkumpul di lahan kosong, tanah adat dan juga sebagai tempat kuburan teungku (ulama) pinggir petak sawah yang baru dibersihkan. Hari itu, mereka menyelenggarakan Khanduri Blang, sebuah tradisi turun-temurun masyarakat agraris Aceh sebelum musim tanam padi serentak dimulai.
Bagi masyarakat Aceh Utara, Khanduri Blang bukan sekadar rutinitas kenduri biasa. Upacara adat ini merupakan ritual sakral yang memadukan napas spiritual Islam dengan kearifan lokal (local wisdom) yang telah dijaga selama berabad-abad dari generasi ke generasi. Khanduri Blang juga salah satu perintah Sultan Aceh yang masih dipatuhi sampai sekarang.
Manifestasi Rasa Syukur dan Doa Kolektif

Esensi paling mendasar dari tradisi ini adalah penyerahan diri dan permohonan berkah kepada Allah SWT. Dipimpin oleh seorang Teungku Imum (tokoh agama desa), seluruh petani duduk bersila membacakan zikir, selawat, dan doa bersama.
Masyarakat meyakini bahwa keberhasilan panen tidak semata-mata bergantung pada pupuk modern atau teknologi pertanian, melainkan ada andil keberkahan dari Sang Pencipta. Melalui doa kolektif ini, mereka memohon agar tanah yang digarap menjadi subur, air mengalir melimpah, dan tanaman padi dijauhkan dari serangan hama penyakit, seperti tikus atau wereng.
Peran Keujruen Blang dan Manajemen Pertanian Tradisional
Khanduri Blang juga berfungsi sebagai forum musyawarah mufakat (duek pakat) yang sangat demokratis. Di sinilah peran Keujruen Blang—lembaga adat yang mengatur tata kelola persawahan di Aceh—menjadi sangat sentral.
Melalui momen kenduri ini, Keujruen Blang bersama para petani menentukan:
Jadwal Serentak: Kapan waktu pembersihan saluran air, pembajakan tanah, pembibitan, hingga penanaman padi dimulai secara seragam.
Varietas Padi: Jenis padi yang akan ditanam agar masa panen bisa serempak untuk meminimalisasi risiko hama.
Sanksi Adat: Kesepakatan bersama mengenai aturan air dan pelanggaran yang mungkin terjadi selama musim tanam.
Manajemen pertanian berbasis kearifan lokal ini terbukti ampuh menjaga keteraturan dan keadilan distribusi air di kalangan petani sejak zaman Kesultanan Aceh.
Perekat Solidaritas Tanpa Kasta
Di tengah gempuran modernisasi dan gaya hidup yang kian individualis, Khanduri Blang menjadi benteng solidaritas sosial yang kokoh. Semua proses pelaksanaan kenduri ini dilakukan secara swadaya dan gotong royong (meusaree-saree).
Petani yang mampu secara ekonomi menyumbangkan uang atau hewan ternak, sementara yang lain menyumbangkan tenaga untuk memasak, menyiapkan tenda, atau membersihkan balèe. Saat makanan dihidangkan di atas daun pisang, tidak ada lagi sekat antara pemilik lahan luas dan buruh tani. Semua duduk setara, menikmati hidangan yang sama, dan saling bertukar cerita. Ikatan persaudaraan inilah yang menjaga kedamaian dan kerukunan warga desa di Aceh Utara.
Menjaga Warisan di Era Modern
Khanduri Blang di Aceh Utara adalah cerminan dari filosofi hidup masyarakat Serambi Mekkah yang selalu menyelaraskan hubungan antara manusia dengan Tuhan (Hablum Minallah), manusia dengan alam, serta manusia dengan sesamanya (Hablum Minannas).
Meskipun traktor modern kini telah menggantikan kerbau pembajak, dan sistem pengairan terus diperbarui, esensi Khanduri Blang tidak pernah luntur. Ia tetap tegak berdiri sebagai identitas kultural, pengingat bagi generasi muda bahwa dari sebutir beras yang mereka makan, ada tetesan keringat gotong royong dan untaian doa yang membubung tinggi ke langit tanah Aceh.[]
Artikel ini dikutip dari kanal Pemkab Aceh Utara isi murni tanpa editan







