BOGOR – Penanews.co.id – Sebelum beroperasi di antariksa, satelit harus melalui proses pengembangan yang panjang dan kompleks. Perekayasa Ahli Pertama Pusat Riset Teknologi Satelit Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Amrullah Abdul Qadir, mengatakan bahwa pembuatan satelit diawali dengan penentuan misi sebagai fondasi utama yang menentukan seluruh spesifikasi satelit yang akan dikembangkan.
“Setiap satelit memiliki tujuan berbeda, seperti komunikasi, pengamatan Bumi, pemantauan cuaca, navigasi, maupun sains. Misi tersebut menjadi dasar dalam menentukan desain dan teknologi yang digunakan,” ujarnya saat menerima kunjungan mahasiswa ITB di Pusat Riset Teknologi Satelit, Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Rancabungur, Bogor, pada Rabu (24/6/2026) dikutip dari situs resmi BRIN.
Setelah misi ditetapkan, tim periset menyusun desain konseptual dengan mempertimbangkan ukuran, berat, kebutuhan daya, sistem komunikasi, serta jenis muatan (payload). Amrullah menjelaskan bahwa desain konseptual satelit disusun dengan mempertimbangkan berbagai aspek teknis secara rinci, meliputi ukuran dan berat, kebutuhan daya listrik, sistem komunikasi, hingga jenis muatan (payload).
“Payload merupakan komponen utama yang menjalankan fungsi misi satelit. Sebagai contoh, satelit penginderaan jauh yang dikembangkan BRIN dilengkapi kamera untuk memantau kondisi permukaan Bumi,” ujarnya.
Tahap selanjutnya adalah manufaktur dan integrasi, yaitu proses perakitan seluruh komponen dan subsistem menjadi satu sistem satelit yang utuh. Tahap ini meliputi integrasi struktur, panel surya, baterai, sistem kendali sikap, komputer penerbangan, sistem komunikasi, hingga payload.
“Perakitan dilakukan di ruang bersih (clean room) untuk memastikan seluruh komponen bebas dari debu dan kontaminan yang dapat mengganggu kinerja perangkat elektronik. Pada tahap ini, para perekayasa memastikan seluruh subsistem bekerja terpadu sesuai rancangan,” ujarnya.
Amrullah menambahkan bahwa setelah proses integrasi selesai, satelit tidak langsung diluncurkan. Sebelum memasuki tahap peluncuran, satelit harus melalui serangkaian pengujian ketat untuk memastikan ketahanannya terhadap lingkungan antariksa yang ekstrem.
“Pengujian dilakukan dengan mensimulasikan kondisi yang akan dihadapi satelit saat peluncuran maupun ketika berada di orbit. Pengujian tersebut meliputi uji getaran untuk meniru guncangan roket serta uji termal vakum yang mereplikasi kondisi hampa udara dengan perubahan suhu yang ekstrem,” ujarnya.
Satelit juga menjalani uji kompatibilitas elektromagnetik untuk memastikan seluruh perangkat elektronik bekerja tanpa saling mengganggu, serta uji fungsional guna memverifikasi bahwa seluruh sistem beroperasi sesuai spesifikasi.
Jika seluruh pengujian terpenuhi, satelit memasuki tahap persiapan peluncuran, yakni dikirim ke fasilitas peluncuran untuk pemeriksaan akhir dan integrasi dengan roket peluncur. Pada tahap ini, periset melakukan pengecekan menyeluruh sebelum satelit ditempatkan di dalam pelindung roket (fairing). Setelah seluruh prosedur selesai, satelit siap diluncurkan menuju orbit yang telah ditentukan.
Peluncuran merupakan fase krusial dalam siklus hidup satelit. Pada tahap ini, roket mengantarkan satelit hingga mencapai lintasan yang direncanakan, kemudian melepaskannya ke orbit sesuai misi. Setelah terpisah, satelit mengaktifkan sistem secara bertahap dan mulai menjalankan misinya. Satelit tetap dipantau dan dikendalikan melalui stasiun bumi yang berfungsi mengirim perintah, menerima data, serta memantau kondisi satelit selama beroperasi.
Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan satelit nasional, seperti LAPAN-A1, LAPAN-A2, dan LAPAN-A3, yang telah digunakan untuk pengamatan Bumi, komunikasi radio amatir, dan pemantauan maritim. Pengalaman ini menjadi dasar pengembangan satelit generasi berikutnya yang lebih maju.
“Satelit terbaru yang sedang disiapkan adalah NEO-1 (Nusantara Earth Observation-1) untuk mendukung observasi Bumi, pemantauan maritim, dan riset medan magnet Bumi,” ujarnya []






