Ekstrak Biji Buah ini Efektif Usir Rayap, BRIN; Begini Cara Olahnya

by -58 Views

MAGELANG – Penanews.co.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Zoologi Terapan, Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan, memperkenalkan teknologi pengenalan rayap perusak kayu serta metode pengendaliannya kepada masyarakat Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai ancaman rayap terhadap bangunan dan aset berbahan kayu sekaligus memperkenalkan solusi pengendalian yang efektif dan ramah lingkungan.

Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Agus Ismanto, menjelaskan bahwa rayap merupakan serangga sosial yang hidup dalam koloni dengan pembagian kasta yang terdiri atas kasta reproduktif (raja dan ratu), kasta prajurit, dan kasta pekerja. Di alam, rayap berperan penting sebagai pengurai bahan organik yang membantu proses daur ulang unsur hara dan menjaga keseimbangan ekosistem.

“Permasalahan muncul ketika koloni rayap berkembang di sekitar pemukiman dan memanfaatkan material berbahan selulosa sebagai sumber makanan. Dalam kondisi tersebut, rayap dapat menjadi hama yang menyebabkan kerusakan pada bangunan, perabot, arsip, hingga berbagai material berbasis kayu lainnya,” ujar Agus dalam kegiatan implementasi teknologi yang berlangsung pada Senin (15/6/2026).

Menurut Agus, sebagian besar kerusakan akibat rayap terjadi secara tersembunyi karena aktivitasnya berlangsung di dalam kayu atau melalui lorong-lorong tanah yang dibangun untuk menjaga kelembapan tubuh. Akibatnya, kerusakan sering kali baru diketahui setelah struktur kayu mengalami penurunan kekuatan yang signifikan.

“Kerugian yang ditimbulkan tidak hanya berupa biaya perbaikan bangunan, tetapi juga berkurangnya umur pakai material kayu yang digunakan masyarakat,” ujar Agus.

Dalam kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan dengan berbagai jenis rayap yang umum ditemukan di Indonesia, khususnya rayap tanah dan rayap kayu kering. Rayap tanah hidup di dalam tanah dan membangun terowongan menuju sumber makanan, sedangkan rayap kayu kering dapat hidup langsung di dalam kayu dengan kadar air yang relatif rendah.

“Setiap jenis rayap memiliki karakteristik serangan yang berbeda sehingga identifikasi jenis rayap menjadi langkah awal yang penting sebelum menentukan metode pengendalian yang tepat,” tegasnya.

Selain mengenali jenis-jenis rayap, masyarakat juga diberikan pengetahuan mengenai tanda-tanda awal serangan rayap, seperti munculnya lorong tanah pada dinding atau pondasi bangunan, kayu yang terdengar kopong saat diketuk, perubahan kondisi permukaan kayu, hingga ditemukannya sayap rayap yang terlepas setelah musim perkawinan.

Agus menekankan bahwa deteksi dini merupakan langkah penting untuk mencegah kerusakan yang lebih luas dan menghindari biaya perbaikan yang lebih besar. Dengan mengenali gejala awal serangan, masyarakat dapat segera melakukan tindakan pencegahan maupun pengendalian sebelum serangan rayap berkembang lebih parah.

Menjawab pertanyaan peserta mengenai mitos penebangan pohon pada musim tertentu, Agus menjelaskan bahwa pengaruh musim lebih terlihat pada bambu dibandingkan kayu. Bambu dengan kadar pati tinggi dan kadar air rendah cenderung lebih mudah diserang organisme perusak, sedangkan pada kayu, pengaruh musim penebangan tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap ketahanan material.

Dalam kesempatan yang sama, Agus juga memperkenalkan pemanfaatan bahan alami sebagai alternatif pengendalian rayap, di antaranya ekstrak biji sirsak dan biji srikaya. Bahan tersebut dapat diekstraksi menggunakan alkohol maupun air, kemudian diaplikasikan pada permukaan kayu untuk membantu melindungi material dari serangan rayap.

“Biji dapat ditumbuk hingga halus, kemudian diekstraksi menggunakan alkohol 70% selama 24 jam atau direndam dalam air selama 48 jam sebelum disaring. Larutan hasil ekstraksi kemudian diaplikasikan pada kayu dengan cara dioleskan atau dikuaskan berulang kali agar bahan aktif dapat meresap secara optimal ke dalam material kayu,” jelas Agus.

Camat Borobudur, Subiyanto, menyambut baik kegiatan implementasi teknologi yang dilakukan BRIN. Menurutnya, pengetahuan mengenai pengenalan dan pengendalian rayap sangat relevan karena banyak bangunan dan perabot masyarakat masih menggunakan material kayu yang rentan terhadap serangan rayap.

“Kami berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus membantu melindungi aset masyarakat dari kerusakan akibat rayap,” ujarnya.

Melalui kegiatan implementasi teknologi ini, BRIN terus mendorong pemanfaatan hasil riset untuk menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat.

“Diseminasi teknologi pengenalan dan pengendalian rayap diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini dan langkah mitigasi yang tepat, sehingga kerugian akibat serangan rayap dapat diminimalkan serta keberlanjutan pemanfaatan material kayu dapat terus terjaga,” pungkasnya.[]

ya