Kapolri: Pabrik Narkoba di Pidie Aceh Terbesar di Indonesia, Produksi 1,2 Ton Sabu, Libatkan Ahli Kimia Cina

by
Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto menyampaikan pengungkapan laboratorium rahasia (clandestine lab) narkotika terbesar di Indonesia yang dibongkar aparat gabungan di Pidie, Aceh Foto dok Istimewa

BANDA ACEH – Penanews.co.id – Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto langsung bertolak ke Aceh usai memimpin konferensi pers pengungkapan kasus penyelundupan 1,16 ton ketamin di Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara, Jumat (25/10/2026)

Setibanya di Aceh, Suyudi meninjau langsung laboratorium gelap (clandestine lab) narkotika terbesar di Indonesia yang berhasil diungkap aparat gabungan di Kabupaten Pidie Aceh

Fasilitas produksi narkotika tersembunyi di Pidie tersebut sebelumnya dibongkar melalui operasi gabungan Bareskrim Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), dan Direktorat Jenderal Bea Cukai.

Dalam penggerebekan di dua toko yang dialihfungsikan menjadi pabrik sabu, petugas menemukan dan mengamankan sekitar 1,2 ton sabu cair jenis methamphetamine.

Berdasarkan hasil penyelidikan awal, clandestine lab di Pidie ini diduga kuat terafiliasi dengan jaringan narkoba internasional lintas negara yang melibatkan sindikat asal China, Malaysia, dan Indonesia.

“Dua warga negara Tiongkok selaku koki utama atau ahli kimia berinisial LJ (45) dan XM (42) juga kita amankan dalam penggerebekan itu,” kata Suyudi saat memberikan keterangan pers di Pidie, Jumat (23/10).

Kedua ahli kimia asal China itu diketahui sudah memetakan lokasi sejak pertengahan tahun ini. Mereka awalnya bertolak dari Yunnan, China, dan sempat transit di Malaysia, lalu LJ dan XM tiba di Banda Aceh pada Juni 2026.

Dari pemeriksaan aparat diketahui LJ dan XM berada di Aceh selama 10 hari untuk memetakan wilayah sebelum kembali ke Malaysia.

Pergerakan mereka kembali terendus pada 15 Oktober 2026 saat LJ dan XM terbang dari Kunming, China ke Kuala Lumpur, Malaysia untuk menemui tersangka yakni seorang Warga Negara Indonesia (WNI) berinisial B.

Aktivitas produksi laboratorium rahasia ini kemudian terdeteksi pada 18 Oktober saat komunikasi LJ terendus petugas.

LJ saat itu menghubungi atasannya di China berinisial LX dan NX untuk melaporkan bahwa proses pembuatan sabu telah dimulai, di mana atasan LJ menginstruksikan agar produksi dipercepat dan barang segera dikirim.

“Komunikasi LJ terendus saat menghubungi atasannya di China berinisial LX dan NX bahwa pembuatan sabu sudah dimulai. Atasan LJ menginstruksikan agar mempercepat produksi dan pengemasan barang untuk segera dikirim” ungkap Suyudi.

Berdasarkan informasi itu pihaknya langsung melakukan penggerebekan secara serentak di sebuah ruko di Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, serta beberapa titik lain di wilayah Bireuen, Aceh Utara, dan Lhokseumawe.

Di Pidie, petugas mengamankan lima orang tersangka, yakni LJ, F, MY, AK, dan AY. Dari hasil penggeledahan di ruko tersebut, tim menyita barang bukti berupa 20 drum sabu cair serta 500 kilogram sabu kristal.

“Proses yang mereka lakukan sangat sistematis sangat terstruktur, dan menunjukkan bahwa jaringan ini dikendalikan oleh ahli kimia berpengalaman,” katanya.

Sebagai informasi, sebelum bertolak mengecek pabrik sabu di Aceh, Jenderal Suyudi terlebih dahulu memimpin konferensi pers pengungkapan 1,16 ton obat keras jenis ketamin HCl senilai Rp 3,48 triliun dari kapal MT Global 168 di Dermaga Pelabuhan Pelindo Bandar Deli Belawan.

Dalam penindakan di Belawan, aparat gabungan meringkus delapan orang kru kapal yang terdiri dari tujuh warga negara Indonesia (WNI) dan satu warga negara asing (WNA) asal Taiwan.

“Ke-8 awak kapal ini terdiri dari 7 orang warga negara Indonesia ya, dan 1 orang warga negara asing ya, WNA asal Tiongkok, Taiwan. Mereka memiliki peran masing-masing dalam mengoperasikan kapal,” kata Jenderal Suyudi Ario Seto dalam jumpa pers di Dermaga Pelabuhan Pelindo Bandar Deli Belawan, Sumatera Utara, Jumat (23/10/2026).

Suyudi merinci peran kedelapan awak kapal tersebut, antara lain nakhoda sekaligus kapten kapal berinisial IC, Chief Officer berinisial RS, JA selaku Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer), dan IAE selaku Masinis 2 (Second Engineer).

Selanjutnya, tersangka berinisial JMR berperan sebagai Oiler atau juru minyak yang bertugas membantu pelumasan serta pembersihan mesin. Sementara RF, DPB, dan YCY (WNA) bertindak sebagai juru mudi (Able Seaman).

Suyudi membeberkan upaya menggagalkan penyelundupan bermula dari deteksi intelijen terkait anomali rute pergerakan kapal MT Global 168 di perairan Selat Malaka yang melintasi Laut Andaman.

Merespons anomali itu, tim gabungan BNN, Bea Cukai, dan Bareskrim Polri pada Senin (19/10) bersiap di Kuala Tanjung mengerahkan kapal patroli Bea Cukai BC 20006 serta KP Murai 4018 untuk melakukan intersepsi.

Kapal tersebut akhirnya berhasil dicegat di perairan Tanjungbalai Asahan, Sumatera Utara, lalu dikawal menuju dermaga Pelabuhan Belawan. Saat digeledah, petugas mendapati muatan 58 karung berisi ketamin HCl seberat 1,16 ton, 1 unit kapal MT Global 168, serta 14 ponsel milik para tersangka.

Suyudi menegaskan rangkaian operasi besar di Belawan hingga penggerebekan lab narkoba di Pidie, Aceh, merupakan bukti keseriusan aparat dalam memberantas sindikat narkoba transnasional.

“Sejumlah barang bukti yang hari ini kita sita bukanlah sekadar angka pencapaian semata, melainkan jutaan nyawa generasi muda bangsa yang berhasil kita selamatkan. Untuk itu mari kita rapatkan barisan, bersama kita wujudkan Indonesia aman, tangguh, dan bersih dari narkoba,” pungkas Suyudi.

Sumber detiknews/CNN Indonesia

ya