IDI RAYEK – Penanews.co.id – Keresahan kini menyelimuti warga Desa Julok Rayeuk Selatan, Kecamatan Indra Makmur, Kabupaten Aceh Timur, Aceh. Kemunculan seekor harimau sumatra liar yang berkeliaran di kawasan perkebunan kelapa sawit milik PTPN setempat membuat warga diliputi kecemasan saat beraktivitas di sekitar lokasi.
Ancaman satwa buas yang berkeliaran di sekitar perkebunan itu bukan sekadar kekhawatiran. Tiga hari lalu, seekor sapi milik warga ditemukan dalam kondisi mengenaskan setelah diterkam predator liar itu.
Mengutip informasi yang dihimpun Media Indonesia pada Minggu (11/10/2026), serangan harimau sumatra terbaru terjadi tiga hari lalu, di mana satu ekor sapi milik warga ditemukan dalam kondisi mengenaskan setelah diterkam hewan buas tersebut. Kondisi ini membuat para petani yang biasanya beraktivitas di kebun kini memilih untuk membatasi kegiatan mereka karena takut bertemu langsung dengan sang “kucing raksasa”.
Muslim, salah seorang warga Julok Rayeuk Selatan, mengungkapkan bahwa intensitas serangan harimau ini meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir. Harimau tersebut diketahui sering mondar-mandir di sekitar pemukiman dan perkebunan untuk mencari hewan ternak.
“Sejak awal bulan Agustus, sedikitnya 10 ekor sapi hilang diterkam harimau. Tiga hari lalu, separuh bangkai sapi bekas terkaman harimau ditemukan di dalam hutan semak,” tutur Muslim.
Desak BKSDA Turun Tangan
Kecemasan warga bukan tanpa alasan. Teror harimau sumatra itu bukan hanya mengancam ternak yang menjadi sumber penghidupan masyarakat, tetapi juga membayangi keselamatan nyawa mereka. Di tengah ancaman predator liar yang masih berkeliaran, warga dihantui kekhawatiran setiap kali harus beraktivitas di sekitar perkebunan.
Jika tidak segera ditangani secara serius, konflik antara manusia dan satwa liar ini dikhawatirkan berujung tragedi yang lebih memilukan. Bukan hanya korban jiwa yang menjadi ancaman, tetapi juga terancamnya mata pencaharian petani yang menggantungkan hidup pada sektor perkebunan dan peternakan.
Masyarakat berharap pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) segera turun ke lokasi untuk melakukan penanganan dan mengevakuasi harimau liar tersebut agar tidak lagi memasuki area perkebunan warga.
Abdullah, petani lainnya, menegaskan bahwa kesabaran warga mulai menipis karena gangguan ini sudah berlangsung selama berbulan-bulan. Ia memperingatkan agar pihak berwenang segera bertindak sebelum warga mengambil langkah sendiri.
“Sudah berbulan-bulan kami terusik oleh harimau liar. Nanti jangan salahkan kalau masyarakat mencegah dengan caranya sendiri jika tidak ada penanganan,” tegas Abdullah.
Konflik satwa liar dan manusia di wilayah pedalaman Aceh Timur memerlukan penanganan cepat dari otoritas terkait guna menghindari tindakan anarkis terhadap satwa dilindungi sekaligus menjamin keamanan warga.[]







