SURABAYA – Penanews.co.id — Satuan Pelajar dan Mahasiswa (SAPMA) Pemuda Pancasila Kota Surabaya menegaskan komitmennya memperkuat nilai-nilai Pancasila dan semangat Sumpah Pemuda di kalangan mahasiswa. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penguatan konsolidasi organisasi, pembentukan komisariat perguruan tinggi, serta pengembangan ruang dialog bagi generasi muda.
Komitmen itu disampaikan Ketua Pengurus Cabang SAPMA Pemuda Pancasila Kota Surabaya, Kevin Harlens, seusai mengikuti Rapat Kerja Nasional (Rakernas) SAPMA Pemuda Pancasila.
Kevin menyampaikan apresiasi kepada Pengurus Pusat SAPMA Pemuda Pancasila atas terselenggaranya Rakernas. Menurutnya, forum tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi dan memastikan program organisasi berjalan hingga tingkat akar rumput.
Ia menekankan bahwa penguatan organisasi tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi harus diwujudkan melalui kerja nyata di tingkat anak cabang, ranting, hingga komisariat perguruan tinggi.
Saat ini, SAPMA Pemuda Pancasila Kota Surabaya telah membentuk komisariat di enam perguruan tinggi, yakni Universitas Airlangga (UNAIR), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), UPN Veteran Jawa Timur, UIN Sunan Ampel (UINSA), Universitas Hang Tuah (UHT), dan Universitas Negeri Surabaya (UNESA).
“Harapan kami, keberadaan komisariat di enam kampus ini menjadi semangat baru untuk terus memperkuat dan menyebarkan ideologi Pancasila di kalangan mahasiswa,” ujar Kevin.
Hadirkan Kopi Cangkru, Bangun Ruang Dialog Pemuda
Selain memperkuat organisasi di lingkungan kampus, SAPMA Pemuda Pancasila Surabaya juga mendorong pendekatan dialogis dalam menyikapi berbagai persoalan kepemudaan dan dinamika sosial.
Salah satu gagasan yang diusung adalah program “Kopi Cangkru”, sebuah ruang pertemuan inklusif yang membuka kesempatan bagi organisasi kemasyarakatan, organisasi kepemudaan, serta berbagai elemen pemuda untuk bertukar gagasan dan menyampaikan aspirasi.
Program tersebut diharapkan menjadi wadah dialektika yang sehat dalam membahas persoalan daerah maupun nasional, sekaligus mendorong budaya diskusi dan menangkal penyebaran hoaks serta informasi yang menyesatkan.
Kevin menilai penyampaian aspirasi merupakan hak masyarakat yang perlu dihormati. Namun, aspirasi juga dapat disalurkan melalui ruang dialog yang konstruktif tanpa harus berujung pada tindakan anarkis.
Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober lalu, SAPMA Pemuda Pancasila Surabaya turut mendampingi aksi mahasiswa dan laskar rakyat dengan menghadirkan ruang dialog intelektual.
Pihaknya mengundang pimpinan DPRD dan Wali Kota Surabaya untuk duduk bersama, mendengarkan keresahan generasi muda, serta membahas berbagai persoalan yang membutuhkan solusi.
Langkah tersebut mendapat respons positif dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Surabaya, Pemerintah Kota Surabaya, serta Ketua DPRD Kota Surabaya.
SAPMA Siap Menjadi Ruang Pembinaan Generasi Muda
Sementara itu, Sekretaris SAPMA Pemuda Pancasila Kota Surabaya, Ruben Chan, mengatakan Rakernas menjadi momentum penting untuk memperkuat arah gerakan organisasi dalam menghadapi tantangan kepemudaan.
Menurutnya, generasi muda membutuhkan wadah pembinaan yang tidak hanya memperkuat pemahaman ideologi kebangsaan, tetapi juga mendorong kreativitas, produktivitas, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Rakernas ini menjadi ajang konsolidasi penting agar SAPMA terus menjadi wadah strategis kepemudaan yang memberi contoh dalam bernegara. Kita harus tetap teguh pada ideologi Pancasila, UUD 1945, dan Sumpah Pemuda,” tegas Ruben.
Ia menambahkan, SAPMA Pemuda Pancasila Surabaya siap mengambil bagian dalam membina generasi muda agar mampu berkarya, menjaga persatuan, serta berkontribusi terhadap pembangunan bangsa.
Melalui penguatan komisariat di enam perguruan tinggi dan program Kopi Cangkru, SAPMA Pemuda Pancasila Surabaya berupaya menghadirkan organisasi kepemudaan yang aktif, terbuka terhadap perbedaan gagasan, dan berorientasi pada penyelesaian persoalan masyarakat.
Dengan demikian, nilai-nilai Pancasila dan Sumpah Pemuda tidak hanya menjadi slogan, tetapi dapat diwujudkan dalam tindakan nyata di tengah kehidupan mahasiswa dan masyarakat.[]







