LHOKSEUMAWE – Penanews.co.id – Eksekutif Wilayah Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EW LMND) Provinsi Aceh sukses menggelar Konferensi Wilayah (Konferwil) ke-V di Lhokseumawe, Sabtu-Minggu lalu. Dalam forum dua hari itu, Aminul Mukminin Sekedang terpilih secara aklamasi sebagai Ketua LMND Aceh yang baru untuk masa bakti 2026-2028.
Konferwil yang digelar di Lhokseumawe tersebut dihadiri oleh eksekutif Kota, yang hadir perwakilan eksekutif dari lhoksemaweu, aceh utara, banda aceh, Aceh Barat, Pidie Jaya, Bireun, Aceh Singkil, dan Langsa. Meski proses pemilihan berlangsung alot, seluruh delegasi akhirnya sepakat memilih Aminul Mukminin Sekedang, yang akrab disapa Aseng, untuk memimpin LMND Aceh ke depan, dan Dedi Saputra sebagai Sekretaris Wilayah.
Regenerasi untuk Melanjutkan Perjuangan
Ketua EW LMND Aceh periode 2024-2026, Iswandi, dalam sambutannya usai serah terima pataka kepemimpinan menyampaikan bahwa terselenggaranya Konferwil ini merupakan buah dari perjuangan kader-kader LMND untuk melanjutkan estafet organisasi ke generasi berikutnya.
Menurutnya, sebagai organisasi progresif, LMND harus tetap eksis membangun gerakan dan mengawal isu-isu sosial, sehingga regenerasi kepemimpinan menjadi sebuah keniscayaan.
“Dengan terpilihnya pemimpin baru, kita berharap LMND bisa terus hadir, terus hidup, dan berjuang bersama masyarakat,” ujar Iswandi, Senin (24/8/2026)
Sementara itu, Ketua LMND Aceh terpilih, Aminul Mukminin Sekedang, yang juga pernah di tangkap dan di tahan di polresta Banda Aceh ketika melakukan aksi demonstrasi pada tanggal 4 April 2020 yang pada saat ini menuntut pencabutan pemberlakuan Jam Malam pada saat covid-19 melanda indonesia di Banda aceh, Ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh kader yang telah memberi kepercayaan kepadanya untuk menakhodai organisasi mahasiswa progresif tersebut.
“Kita tahu bahwa jalan perjuangan itu harus tetap berlanjut, regenerasi kepemimpinan juga demikian. Dengan lahirnya struktur dan pemimpin baru, ada kekuatan baru untuk menyusun kerja-kerja kerakyatan, kerja-kerja mahasiswa yang hidup di era post-truth ini,” paparnya.
Aminul mengakui, gerakan mahasiswa di era post-truth dan di tengah ketidakpastian global menuntut banyak penyesuaian. Menurutnya, mahasiswa hari ini dihadapkan pada tantangan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya, di mana informasi mudah dimanipulasi dan arah perubahan sosial semakin sulit diprediksi.
“Di era post-truth ini, kebenaran sering kali kalah cepat dengan narasi. Mahasiswa sebagai agent of change harus mampu menjaga nalar kritis, memverifikasi setiap isu sebelum turun menyuarakan sikap, dan tidak mudah terseret arus disinformasi.
Ketidakpastian global, mulai dari krisis ekonomi, perubahan iklim, hingga pergeseran geopolitik, justru harus menjadi alasan bagi mahasiswa untuk semakin solid membangun gerakan yang berbasis data dan keberpihakan pada rakyat,” tegasnya.
Lebih lanjut, Aminul menekankan pentingnya mahasiswa menyeimbangkan peran sebagai penggerak perubahan dengan kesiapan menghadapi dunia kerja usai lulus. Ia menilai keduanya bukan hal yang saling bertentangan.
“Menjadi agent of change dan mempersiapkan karier setelah menjadi sarjana bukan dua hal yang berlawanan. Justru pengalaman berorganisasi dan bergerak bersama masyarakat itu yang akan membentuk karakter, jaringan, dan kepekaan sosial yang dibutuhkan mahasiswa saat mereka terjun ke dunia kerja maupun ke ruang-ruang pengabdian lainnya setelah keluar dari kampus,” katanya.
Dengan terpilihnya kepengurusan baru ini, LMND Aceh diharapkan dapat melanjutkan konsolidasi organisasi di tingkat wilayah sekaligus memperkuat perannya dalam mengawal isu-isu kerakyatan di Aceh dalam dua tahun ke depan.[]







