BANDA ACEH – Penenewa.co.id – Saat angin perdamaian mulai berembus di antara Amerika Serikat dan Iran, hubungan bilateral Indonesia dengan Teheran justru dilaporkan tengah menghadapi ganjalan besar. Fakta pahit ini dibeberkan oleh Dian Wirengjurit, Duta Besar RI untuk Iran periode 2012-2016.
Mengutip Kompas.com, Dian, mengungkapkan hambatan besar dalam hubungan bilateral antara Indonesia dan Iran yang dipicu oleh serangkaian insiden diplomatik
“Iran sudah berkali-kali, tolong catat, berkali-kali dikecewakan Indonesia,” tegas Dian dalam program Satu Meja The Forum di Kompas TV, Rabu (24/6/2026).
Dian menambahkan bahwa di saat lanskap global menyambut baik redanya ketegangan antara AS dan Iran, hubungan Jakarta dengan Teheran justru sedang berada dalam kondisi yang terluka.
Salah satu ganjalan utamanya adalah penahanan kapal tanker Iran di Batam sejak tahun 2023 yang dianggapnya masih bisa disengketakan secara hukum internasional.
Selain masalah tanker, Dian mengungkap insiden pada Latihan Komodo 2025 di mana kapal perang Iran diminta pergi setelah tiba di Indonesia karena tekanan dari Amerika Serikat
“Iran diundang, sudah datang dengan dua kapal perangnya untuk ikut latihan. Begitu datang disuruh pulang karena Amerika tidak suka,” ucapnya.
Tindakan ini dinilai sangat mencederai etika diplomasi terhadap negara yang telah diundang secara resmi.
Ia juga mengkritik posisi Indonesia yang dianggap terlalu berpihak dalam konflik Timur Tengah, termasuk melalui keterlibatan dalam Board of Peace (BOP).
Hal ini membuat Iran merasa Indonesia tidak lagi menjalankan politik luar negeri yang benar-benar bebas aktif.
Menurut Dian, jika Indonesia ingin memanfaatkan momentum damai ini untuk mengamankan pasokan minyak, maka harus ada iktikad baik terlebih dahulu.
Langkah konkret yang disarankan adalah melakukan pertukaran pembebasan kapal tanker antara kedua negara sebagai bentuk tindakan resiprokal.
“Karena itu akan membantu kita membebaskan dua kapal tanker kita yang ditahan,” ucapnya.
Momentum Iran-AS Damai
Sebagai Informasi, negosiasi putaran pertama antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Swiss pada Senin (22/6/2026) telah selesai dengan menghasilkan sejumlah kesepahaman awal.
Wakil Presiden AS JD Vance menyebut pembicaraan tersebut membangun “fondasi yang sukses” untuk mencapai kesepakatan akhir guna mengakhiri perang.
Pertemuan yang berlangsung di kawasan pegunungan Burgenstock, Swiss, itu digelar setelah kedua negara menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) untuk mengakhiri konflik.
Pembicaraan melibatkan delegasi AS yang dipimpin Vance dan delegasi Iran yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, dengan mediasi dari Pakistan dan Qatar.
Kerangka yang dibuat memberikan waktu 60 hari bagi kedua pihak untuk menyusun perjanjian akhir, dengan kemungkinan diperpanjang jika disetujui bersama.
Perjanjian damai ini dinilai bisa memberikan keuntungan bagi Indonesia khususnya terkait dengan distribusi energi yang tertahan di Selat Hormuz.[]







