Oleh : Muhibbul Khibri, S.Pd.,M.Pd.,
DELAPAN PULUH tahun silam, tepatnya 1 September 1946, sebuah gedung bergaya Neoklasik Yunani di tepi Lapangan Blang Padang resmi bertransformasi menjadi SMA Negeri pertama di Aceh.
Kini, SMA Negeri 1 Banda Aceh – yang akrab disapa SMANSA Jeumpa Puteh – genap berusia delapan dekade. Sekolah yang menempati bangunan cagar budaya ini tidak hanya merawat ingatan masa lalu, tetapi juga terus melahirkan generasi juara hingga ke panggung dunia.
Mengusung tema “Delapan Dekade Menata Sejarah, Merangkai Prestasi untuk Generasi Hebat dan Berakhlak Mulia”, peringatan HUT ke-80 SMANSA Jeumpa Puteh menjadi momentum reflektif bagi sebuah institusi yang berhasil menyelaraskan preservasi nilai historis dengan tuntutan prestasi modern.
Perjalanan SMANSA Jeumpa Puteh tak lepas dari kisah dramatis gedung utamanya yang dibangun sejak 1878. Awalnya, bangunan dengan 14 pilar silindris megah ini digunakan sebagai tempat berkumpul kaum teosofi Belanda, sebelum dialihfungsikan menjadi sekolah Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) pada masa Hindia Belanda.
Ketika Indonesia merdeka, gedung bersejarah ini resmi menjadi SMA Negeri 1 Banda Aceh – mencatatkan diri sebagai SMA negeri pertama dan tertua di Aceh. Uji terbesar datang pada 2004 saat Tsunami Aceh meluluh-lantakkan kota. Namun, fasad kuno sekolah ini tetap berdiri tegak, menjadi simbol ketahanan dan harapan di tengah kehancuran.

Bangunan ini bukan sekadar sekolah, melainkan saksi bisu transformasi sosial dan politik di Aceh. Fasadnya yang selamat dari tsunami adalah bukti bahwa nilai-nilai yang kami jaga jauh lebih kokoh dari bencana apa pun.
Pada 2018, melalui alokasi APBA senilai Rp 20 miliar, sekolah melakukan revitalisasi besar-besaran. Sebanyak 24 Ruang Kelas Baru (RKB), laboratorium, dan musala dibangun dengan desain “Letter U” yang seolah “memeluk” fasad sejarah – sebuah harmoni spasial antara masa lalu dan masa depan. Puncaknya, pada 6 Desember 2022, gedung ini resmi ditetapkan sebagai Cagar Budaya Kota Banda Aceh melalui SK Walikota No. 634 Tahun 2022.
Di usia delapan dekade, SMANSA Jeumpa Puteh tidak kehilangan daya juangnya. Prestasi gemilang kembali ditorehkan siswa-siswinya di kancah internasional:
- Medali Emas dan Perak pada World Science, Environment, and Engineering Competition (WSEEC) 2026
- 1 Medali Emas dan 2 Medali Perak pada Youth International Science Fair (YISF) 2026
- Medali Emas pada Global Competition for Life Science (GloCoLis) 2026
- Medali Perak pada Intellectual, Property, Invention, Innovation, and Technology Exposition (IPITEX) 2026
Tak hanya akademik, tradisi pengabdian negara juga terus berlanjut. Pada 2026, empat siswa berhasil menembus Akademi Militer (AKMIL): Agha Wahidin Lubis, Dafin Maulana, Asra Haditya Pratama, dan Muhammad Fadhlan Pane, Sementara itu, T. Fachri Akram Setiawan lulus di Kedokteran Universitas Pertahanan (UNHAN).
Jejak kepemimpinan SMANSA Jeumpa Puteh tercermin dari deretan alumni yang kini memegang peranan strategis di Aceh dan Indonesia. Di antaranya:
- Dr. Ir. Azwar Abubakar, M.M. – Mantan Menteri PANRB dan Gubernur Aceh
- dr. Zaini Abdullah – Mantan Gubernur Aceh
- Ir. Nova Iriansyah, M.T. (Angkatan ’82) – Mantan Gubernur Aceh yang meletakkan batu pertama revitalisasi 2018
- Nel Adianto (Alumni 1988) – Direktur PT Indah Karya, penggagas maket gedung modern pasca-tsunami
- Brigjen TNI Yudha Fitri – Kasdam IM (2025)
- Mayjen (Mar) Safzen Noerdin – Komandan Korps Marinir TNI-AL
Identitas “Jeumpa Puteh” diwujudkan dalam tiga warna yang sarat makna: Putih (kesucian niat mendidik), Kuning (kejayaan dan ambisi berprestasi), dan Hijau (akar kuat pada syariat Islam dan budaya Aceh)
Ketiga warna ini menjadi fondasi filosofi Damee Meuadab – Damai dan Beradab – yang dijabarkan dalam tiga pilar kultur sekolah: (1) Religius & Beradab, (2) Literasi & Numerasi, serta (3) Sadar Lingkungan.
Nilai religius dan karakter beradab inilah yang dibawa para alumni dalam setiap langkah pembangunan masyarakat Indonesia. Di usia ke-80 ini, kami menyatukan para sesepuh, alumni, guru, dan siswa untuk bersama-sama menjaga tradisi keilmuan tersebut.
Sebagai sekolah yang menempati gedung cagar budaya, SMANSA Jeumpa Puteh menjadi laboratorium hidup bagi pembelajaran sejarah lokal. Penelitian internal menunjukkan korelasi positif antara lingkungan sekolah yang bersejarah dengan kesadaran sejarah siswa.
Kami ingin peserta didik tidak hanya mengetahui lokasi sejarah, tetapi mampu menggali dan menjelaskan sejarah tersebut kepada generasi selanjutnya.
Delapan puluh tahun SMANSA Jeumpa Puteh bukan sekadar perayaan angka. Ia adalah pembuktian bahwa penghargaan terhadap masa lalu adalah fondasi terkuat untuk membangun masa depan yang gemilang – generasi hebat yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia untuk Aceh dan Indonesia.
————————-
Penulis adalah Kepala
SMA Negeri 1 Banda Aceh








