Bulan Hanya Satu, Hilal Itu Banyak: Menjahit Nalar Sains dalam Narasi Iman

by
Prof. Ir. Mas Mera. MT. Ph.D (Guru Besar Jurusan Teknik Sipil Universitas Andalas)

Oleh: Prof. Ir. Mas Mera. MT. Ph.D (Guru Besar Jurusan Teknik Sipil Universitas Andalas)

Bismillāhirrahmānirrahīm. Menjelang Ramadhan atau Syawal, umat Islam di Indonesia sering kali terjebak dalam dikotomi lama: Hisab atau Rukyat? Perdebatan ini seolah menjadi ritual tahunan yang tak kunjung usai. Namun, belakangan ini saya menemukan perspektif menarik yang berangkat dari keunikan linguistik Al-Qur’an. Saya mulai memberanikan diri menelusuri ayat-ayat suci, tentu dengan bantuan model bahasa cerdas (AI) sebagai “teleskop digital” untuk memetakan frekuensi kata, yang kemudian saya verifikasi secara manual agar tetap dalam koridor makna yang benar.

Temuan ini sederhana namun mendalam: Dalam Al-Qur’an, Allāh SWT menyebut benda langit yang kita kenal sebagai bulan dengan dua istilah yang berbeda secara gramatikal, yakni Qamar dan Hilal. Perbedaan bentuk tunggal dan jamak pada kedua kata ini ternyata menyimpan kunci jawaban atas fenomena perbedaan awal bulan Hijriah di berbagai belahan dunia.

Realitas Fisik: Satu Bulan bagi Seluruh Bumi

Dalam mushaf Al-Qur’an, kata Qamar (bulan sebagai benda langit) muncul sebanyak 27 kali. Menariknya, seluruh penyebutan tersebut selalu dalam bentuk tunggal (mufrad). Tidak pernah sekalipun Allāh menggunakan bentuk jamak seperti Aqmār. Secara teologis dan saintifik, ini adalah penegasan bahwa satelit alami Bumi ini memang hanya satu.

Secara fisik, bulan adalah bola batu raksasa dengan jari-jari sekitar 1.737 km. Ia mengorbit Bumi kita yang memiliki jari-jari rata-rata 6.371 km pada jarak rata-rata 384.400 km. Karena Bulan hanya satu, maka posisinya di ruang angkasa terhadap Matahari (yang jari-jarinya mencapai 695.700 km) adalah sebuah kepastian mekanika langit yang objektif. Peristiwa ijtimak atau konjungsi—ketika Bumi, Bulan, dan Matahari berada pada garis bujur ekliptika yang sama–terjadi pada satu waktu yang sama untuk seluruh penduduk Bumi. Jika dihitung dengan Hisab Haqiqi, detik terjadinya konjungsi adalah peristiwa global yang tak terbantahkan.

Realitas Fenomenal: Hilal yang Berbilang

Namun, ketika berbicara tentang fungsi penanggalan, Al-Qur’an mengganti istilah Qamar menjadi Hilal. Kata ini hanya muncul satu kali, yaitu dalam Surat Al-Baqarah (2): 189, dan ia muncul dalam bentuk jamak: Al-Ahillah.

Lihat juga; MUI Minta KPI Sanksi Tegas Anwar Sanjaya Terkait Aksi dalam Program Indahnya Ramadhan Trans TV

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit (al-ahillah). Katakanlah, ‘Itu adalah (penunjuk) waktu bagi manusia dan (ibadah) haji…’” Mengapa untuk ben=da yang satu (Bulan), Allāh menggunakan kata jamak (Ahillah) saat mengaitkannya dengan waktu manusia? Di sinilah sains dan agama bertemu secara elegan. Secara astronomis, “Hilal” bukanlah benda langitnya, melainkan “fenomena penampakan” pantulan cahaya matahari pada permukaan bulan yang terlihat dari Bumi

Karena Bumi bulat dan luas, posisi pengamat di Jakarta akan berbeda dengan pengamat di Maroko atau Los Angeles. Perbedaan posisi geografis ini menyebabkan perbedaan sudut pandang. Di satu tempat, bulan mungkin sudah berada di atas ufuk dengan ketinggian yang cukup untuk terlihat (Hilal sudah “wujud”), sementara di tempat lain bulan masih berada di bawah ufuk. Oleh karena itu, Hilal bersifat lokal dan plural (Ahillah), sedangkan Bulan bersifat global dan tunggal (Qamar). Inilah alasan mengapa awal Ramadhan bisa berbeda antar wilayah: karena kita tidak melihat “Bulan” yang sama pada saat yang sama, melainkan melihat “Hilal” (fenomena cahaya) yang muncul secara bergantian sesuai perputaran Bumi.

Hisab sebagai “Filter” Kejujuran

Integrasi antara teks suci dan sains semakin krusial saat kita memasuki ranah pembuktian di lapangan. Hadits Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk berpuasa dan berbuka (Idulfitri) karena melihat hilal (li-ru’yatihī). Di masa lalu, rukyat atau pengamatan visual adalah satu-satunya teknologi yang tersedia. Namun kini, kita memiliki Hisab modern yang tingkat presisinya sangat tinggi.

Lihat juga; BMKG dan BRIN Prediksi Idul Fitri 2026 atau 1 Syawal 1447 H Jatuh pada Tanggal ini

Hisab memberi kita data tentang ketinggian bulan, sudut elongasi (jarak sudut antara bulan dan mataha=ri), hingga lama waktu bulan di atas ufuk. Misalnya, jika data astronomi menunjukkan ketinggian bulan hanya 0,5 derajat di atas ufuk saat matahari terbenam, maka secara sains hilal tersebut mustahil bisa dilihat dengan mata telanjang karena cahaya senja (syafaq) masih terlalu terang, “menelan” cahaya tipis dari bulan sabit muda yang jaraknya mencapai ratusan ribu kilometer itu.

Di sinilah muncul persoalan pelik: bagaimana jika ada seseorang bersumpah telah melihat hilal, padahal data hisab menunjukkan hilal mustahil terlihat? Dalam tradisi hukum klasik, sumpah seorang Muslim sering kali dianggap cukup sebagai bukti. Namun, di era di mana ilmu pengetahuan telah mencapai tingkat kepastian tinggi, kita harus lebih bijak.

Sumpah memang sakral, namun persepsi manusia bisa keliru. Mata manusia rentan terhadap halusinasi, pantulan cahaya planet Venus, atau bahkan awan yang menyerupai sabit. Menolak kesaksian yang bertentangan dengan data ilmiah yang sahih bukanlah bentuk pengabaian terhadap agama. Sebaliknya, itu adalah upaya melindungi agama dari fitnah dan spekulasi. Jika posisi Bulan belum memungkinkan terbentuknya Hilal menurut perhitungan yang presisi, maka klaim penglihatan tersebut harus ditolak demi menjaga kebenaran ibadah.

Rukyat dan Prinsip Kehati-hatian (Ikhtiyat)

Menempatkan Hisab sebagai alat bantu Rukyat bukan berarti merendahkan kedudukan hadits Nabi. Justru, ini adalah bentuk penghormatan terhadap kesucian ibadah agar tidak dicemari oleh kesalahan manusiawi (human error). Kita harus jujur mengakui bahwa rukyat yang dilakukan tanpa kehati-hatian dan tanpa panduan sains sangat rentan terhadap distorsi.

Atmosfer bumi kita penuh dengan tantangan: mulai dari polusi cahaya, uap air, hingga debu vulkanik yang bisa membiaskan cahaya bintang atau planet (seperti Venus atau Merkurius) sehingga tampak seperti sabit tipis di ufuk. Belum lagi faktor psikologis “keinginan untuk melihat” yang sering kali memicu halusinasi penglihatan. Di sinilah Hisab berperan bukan sebagai “tuan”, melainkan sebagai “pagar pengaman”

Jika seorang perukyat mengaku melihat hilal saat posisi bulan secara astronomis masih di bawah ufuk atau belum mengalami konjungsi, maka prinsip kehati-hatian (ikhtiyat) menuntut kita untuk menguji klaim tersebut. Bukankah jari-jari Matahari yang mencapai 695.700 km dengan cahayanya yang masif akan mustahil menyisakan ruang bagi pantulan cahaya Bulan yang hanya berjari-jari 1.737 km jika jarak sudut (elongasi) keduanya masih terlalu rapat? Ini ibarat mencoba melihat kerlip sebatang lilin di samping lampu sorot stadion yang sedang menyala benderang. Menolak klaim rukyat yang mustahil secara astronomis bukanlah bentuk pengabaian terhadap saksi, melainkan bentuk penjagaan agar umat tidak memulai ibadah di atas fondasi kekeliruan.

Dengan demikian, tidak ada yang lebih unggul. Tanpa Rukyat, kita kehilangan dimensi spiritualitas dan ketaatan pada tradisi. Tanpa Hisab, Rukyat kita rentan tersesat dalam ketidakpastian atmosfer dan subjektivitas mata manusia. Keduanya adalah sepasang instrumen yang dianugerahkan Allāh: satu melalui wahyu (qauliyah), satu melalui keteraturan alam (kauniyah).

Menuju Harmonisasi Tradisi dan Teknologi

Kita tidak perlu lagi mempertentangkan Hisab dan Rukyat sebagai dua kutub yang saling menghancurkan. Sebaliknya, kita perlu menempatkan keduanya dalam hubungan yang saling menguji. Hisab menyediakan ‘peta kemungkinan’ yang presisi, sementara Rukyat adalah ‘pembuktian faktual’ di lapangan. Rukyat adalah bentuk ketaatan pada teks hadits, sedangkan Hisab adalah bentuk ketaatan pada Sunnatullah yang tertuang dalam hukum-hukum alam (astronomi).

Dengan memahami bahwa “Bulan itu satu tapi Hilal itu banyak,” kita bisa lebih toleran terhadap perbedaan matla’ (batas wilayah keberlakuan rukyat). Kita juga bisa mulai membangun kriteria visibility/as hilal yang lebih ilmiah dan disepakati bersama, seperti kriteria MABIMS yang mensyaratkan ketinggian hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Kriteria ini bukan dibuat untuk menyulitkan, melainkan untuk memastikan bahwa apa yang kita klaim sebagai “Hilal” benar-benar nyata secara empiris, bukan sekadar imajinasi kolektif.

Al-Qur’an telah memberikan isyarat bahasa yang luar biasa melalui perbedaan kata Qamar dan Ahillah. Pesan ini mengajak kita untuk cerdas dalam beragama: mengakui ketunggalan kekuasaan Allāh di langit, namun menghargai keragaman pengalaman manusia di bumi. Teknologi seperti Stellarium atau perhitungan algoritma astronomi bukanlah musuh iman. Mereka adalah kacamata modern yang membantu kita melihat tanda-tanda kebesaran-Nya dengan lebih jernih. Dengan menyelaraskan akurasi hisab dan ketulusan rukyat, kita tidak hanya mendapatkan kepastian tanggal, tetapi juga mendapatkan kedamaian dalam beribadah. Langit dan teknologi, tradisi dan sains—keduanya harus berjalan beriringan di bawah naungan cahaya hilal yang sama.[]

Artikel ini dikutip dari unand.ac.id

ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *