JAKARTA – Penanews.co.id – Kejaksaan Agung (Kejagung) mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) untuk segera menyalurkan armada motor listrik yang saat ini masih tersimpan di gudang. Langkah ini diperlukan agar kendaraan tersebut dapat langsung dimanfaatkan dalam mendukung kelancaran program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Terkait hal tersebut, Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus, Syarief Sulaeman Nahdi, menegaskan bahwa pihak Kejaksaan tidak akan melakukan penyitaan terhadap seluruh unit motor listrik yang telah tersedia.
Ia mengatakan pendistribusian itu penting agar motor listrik yang telah tersedia bisa dimanfaatkan dan tidak didiamkan saja di gudang-gudang.
“Tidak harus semua menjadi barang bukti. Apalagi ini merupakan pelayanan ya, kami tidak akan melakukan penyitaan terhadap seluruh barang bukti sepeda motor,” ujarnya kepada media dikutip Minggu (14/6).
Menurut Syarief, tidak perlu dilakukan penyitaan terhadap seluruh motor listrik. Fokus penyidikan hanya terbatas pada pengumpulan rekam jejak pengadaan motor listrik yang terbukti bermasalah.
“Kami akan dorong juga bekerja sama dengan BGN untuk segera menuntaskan proses distribusi terhadap motor-moto itu. Karena sampai sekarang motor itu masih berada di gudang-gudang. Hanya sebagian kecil yang sudah sampai di tujuan, di tempat masyarakat, di tempat dapur-dapur berada,” jelasnya.
Syarief menyebut hal ini bermula dari pertemuan mantan Wakil Kepala BGN Lodewyk Pusung dengan Komisaris PT Yasa Artha Trimanunggal (YAT) Andri Mulyono pada awal tahun 2025.
Dalam pertemuan itu, perusahaan Andri yang bergerak di bidang pengadaan barang dan logistik mempresentasikan diri dengan harapan dapat mengerjakan proyek pengadaan barang di BGN.
“Setelah pertemuan itu, tersangka AM mendapat informasi mengenai Pengadaan Sepeda Motor Listrik di BGN dengan nilai anggaran Rp60 juta per unit,” jelasnya
Padahal, kata Syarief, pengadaan itu tidak disusun sesuai dengan kebutuhan riil lapangan. Selanjutnya Andri sejak Februari 2025 secara aktif berkomunikasi dengan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di BGN.
Sementara pada saat itu, PT YAT seharusnya tidak bisa menjadi vendor yang mengadakan motor listrik karena belum memiliki dealer/bengkel aktif serta tidak memenuhi persyaratan.
Untuk memuluskan aksinya, kata dia, Andri bekerja sama dengan sosok AA untuk mengakuisisi PT Adlas Sarana Elektrik (ASE) untuk memudahkan dalam memenangkan kegiatan pengadaan sepeda motor listrik.
Selain itu, Andri juga melakukan penggelembungan harga (mark up) untuk setiap unit sepeda motor listrik. Adapun tujuannya untuk mendekati harga Pagu yang tersedia dalam pengadaan.
Atas perbuatannya itu, Syarief mengatakan Andri menerima pembayaran penuh atas pengadaan sepeda motor listrik dengan Berita Acara Serah Terima (BAST) yang telah dimanipulasi.
Sebelumnya Kejaksaan Agung (Kejagung) telah menetapkan lima orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk periode 2025–2026.
Kelima tersangka tersebut meliputi mantan pejabat teras Badan Gizi Nasional (BGN) dan pihak swasta, yakni:
- Dadan Hindayana (Eks Kepala BGN)
- Sony Sonjaya (Eks Wakil Kepala BGN)
- Lodewyk Pusung (Eks Wakil Kepala BGN)
- Asep Yusuf Somantri / AYS (Kaki tangan Sony Sonjaya)
- Andri Mulyono (Komisaris PT Yasa Artha Trimanunggal / YAT)
Atas kasus ini Kejagung menjelaskan program MBG ini seharusnya dikelola secara mandiri oleh yayasan Satuan Pelayanan dan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terafiliasi langsung dengan sekolah penerima manfaat.
Namun pada praktiknya, banyak SPPG yang ditunjuk secara sepihak karena memiliki kedekatan atau afiliasi dengan petinggi BGN. Padahal, banyak dari yayasan tersebut yang secara aturan tidak memenuhi syarat untuk menjadi mitra.
Sehingga terjadi penggelembungan harga (mark-up) dalam pengadaan sejumlah fasilitas operasional yang akhirnya merugikan negara. Beberapa jenis barang yang anggarannya digelembungkan antara lain:
- 21.801 unit motor listrik (senilai Rp1,03 triliun)
- 32.000 pasang sepatu
- 31.994 unit tablet
- 5.400 unit televisi berukuran 75 inci.[]
Sumber CNN Indonesia





