TANGSEL – Penanews.co.id – Kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak boleh membuat generasi muda kehilangan semangat belajar, karakter, dan tradisi keilmuan Islam yang telah diwariskan para ulama selama berabad-abad.
Pesan tersebut disampaikan Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Muchlis M. Hanafi, dalam Orasi Ilmiah Wisuda Santri Akhirussanah XIX Pondok Pesantren Al-Qur’aniyyah, Tangerang Selatan, di Gedung SC STAN Bintaro.
Hadir dalam kesempatan tersebut Pengasuh Pondok Pesantren Al-Qur’aniyyah sekaligus Ketua LPTQ Kota Tangerang Selatan KH. Muhammad Sobron Zayyan, Wakil Rektor I UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. A. Tholabi Kharlie, Camat Pondok Aren, para wali santri, serta wisudawan dan wisudawati Akhirussanah Angkatan XIX.
Dalam orasi bertajuk “Dari Tradisi Keilmuan Menuju Peradaban: Menjadi Generasi Qur’ani di Era Kecerdasan Buatan”, Muchlis mengajak para wisudawan untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai fondasi pengembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan peradaban.
Menurutnya, sejarah mencatat bahwa kejayaan peradaban Islam tidak lahir karena kekuatan militer atau kekayaan semata, melainkan karena penghormatan yang sangat tinggi terhadap ilmu pengetahuan, ulama, dan para ilmuwan.
“Peradaban Islam dibangun oleh generasi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai energi dan sumber inspirasi untuk berkarya. Dari tradisi itulah lahir para ulama dan ilmuwan besar seperti Imam al-Bukhari, Al-Khawarizmi, Ibn Sina, Ibn al-Haytsam, dan Al-Biruni yang karya-karyanya memberi manfaat bagi seluruh umat manusia,” ujarnya, dilansir laman resmi Kemenag Minggu (21/6/2026).
Muchlis menjelaskan bahwa para ulama terdahulu membangun tradisi ilmu dengan pengorbanan yang luar biasa. Mengutip sejumlah kisah dalam kitab Shafahat min Shabr al-‘Ulama karya Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah, ia menggambarkan bagaimana para ulama rela menghabiskan usia, tenaga, harta, bahkan menghadapi penjara dan penderitaan demi menjaga integritas ilmu.
“Imam al-Bukhari menempuh perjalanan ribuan kilometer, dari Bukhara Uzbekistan hingga ke kota-kota pusat keislaman di Timur Tengah, hanya untuk memverifikasi kesahihan hadis. Imam Ahmad bin Hanbal rela dipenjara dan dicambuk oleh penguasa Duinasti Abbasiyah demi mempertahankan kebenaran pendapat ilmiahnya. Para ulama dahulu membayar ilmu dengan usia, tenaga, harta, bahkan penderitaan,” katanya.
Ia kemudian mengajak para santri mensyukuri kemudahan yang dimiliki generasi saat ini. Jika dahulu kitab-kitab harus dicari dengan perjalanan panjang dan disalin dengan tangan, kini ribuan kitab, tafsir, hadis, dan berbagai referensi keilmuan tersedia dalam hitungan detik melalui perangkat digital. Namun, menurutnya, kemudahan teknologi tidak otomatis melahirkan kesungguhan dalam belajar.

“Generasi terdahulu kekurangan sarana, tetapi memiliki semangat yang luar biasa. Kita hari ini memiliki sarana yang melimpah, tetapi sering kali kekurangan kesungguhan. Yang melahirkan karya besar bukan teknologi, melainkan ketulusan dalam berdedikasi dan kesungguhan dalam memanfaatkan teknologi,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Muchlis juga menyoroti perkembangan AI yang semakin luas digunakan dalam dunia pendidikan, penelitian, dan layanan keagamaan. Menurutnya, AI merupakan alat yang sangat bermanfaat dan harus dimanfaatkan secara optimal. Namun AI tidak dapat menggantikan akal, hati, pengalaman spiritual, maupun bimbingan manusia.
“AI dapat membantu menemukan ayat, hadis, kitab tafsir, atau pendapat ulama dalam hitungan detik. Namun AI tidak memiliki sanad, tidak memiliki guru, tidak memiliki pengalaman spiritual, dan tidak memikul tanggung jawab moral atas jawaban yang diberikannya. Dalam tradisi Islam, ilmu bukan sekadar soal informasi yang benar, tetapi juga tentang siapa yang mengajarkannya, bagaimana cara memperolehnya, serta nilai-nilai dan adab yang menyertainya,” ujarnya.
Karena itu, lanjut Muchlis, AI dapat membantu proses belajar dan memperluas akses terhadap pengetahuan, tetapi tidak dapat menggantikan peran guru, ulama, dan tradisi talaqqi yang menjadi ciri khas keilmuan Islam sejak masa Rasulullah SAW hingga sekarang.
Ia menilai keberadaan pesantren tetap sangat relevan di tengah perkembangan teknologi karena pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk karakter, adab, integritas, dan keteladanan. Pesantren juga memelihara tradisi sanad keilmuan dari masa ke masa, dari generasi ke generasi, dengan penuh tanggungjawab intelektual.
“Dunia masa depan tidak membutuhkan manusia yang hanya memiliki informasi. Dunia membutuhkan manusia yang memiliki karakter, akhlak, kebijaksanaan, dan tanggung jawab moral. Di sinilah nilai-nilai Al-Qur’an menjadi semakin penting dan semakin dibutuhkan di era kecerdasan buatan, karena dimensi moral, spiritual, dan kemanusiaan tidak dapat digantikan oleh AI,” katanya.
Kepada para wisudawan, Muchlis berpesan agar tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai pedoman dalam berkarya dan berkontribusi bagi masyarakat.
“Jangan hanya menjadi penjaga bacaan Al-Qur’an. Jadilah pembangun peradaban dengan Al-Qur’an. Jadilah generasi yang memadukan kemurnian wahyu dengan kecanggihan teknologi, memadukan kedalaman ilmu dengan kemuliaan akhlak, serta menghadirkan manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan,” pungkasnya.[Kemenag RI]







