Oleh:Zulfadli Kawom
AROMA kuah Mie Caluek khas Aceh bercampur baur dengan bau amis ikan bandeng segar yang baru diturunkan dari keranjang raga bui mugee ikan. Riuh rendah suara tawar-menawar dalam bahasa Aceh dialek pesisir langsung menyergap telinga begitu kaki melangkah memasuki kawasan Keudee Krueng Geukuh, Dewantara, Aceh Utara. Hari itu adalah Uroe Peukan—hari pasar mingguan yang selalu dinanti, sebuah tradisi niaga legendaris yang tetap berdenyut kencang di tengah gempuran zaman digital.
Bagi masyarakat setempat, Uroe Peukan bukan sekadar tempat bertemunya penjual dan pembeli. Ia adalah panggung budaya, ruang silaturahmi, dan denyut nadi ekonomi yang memompa kehidupan ke seluruh pelosok kecamatan.

Magnet Tradisi dari Berbagai Daerah
Sejak subuh buta, kepulan asap kopi dari warung-warung di sekitar pasar sudah membubung. Bersamaan dengan itu, mobil bak terbuka dan becak motor yang sarat muatan mulai berdatangan. Mereka bukan hanya pedagang lokal, tetapi juga para saudagar lintas wilayah—mulai dari Bireuen, Takengon, hingga Pidie—yang sengaja datang untuk menjemput rezeki di Krueng Geukuh.
“Kalau hari pasar seperti ini, modalnya harus siap dua kali lipat. Pembeli datang dari mana-mana, bahkan dari desa-desa pedalaman yang jauh, misalnya dari Nisam” ujar Nek Mah (62), seorang pedagang bumbu dapur paruh baya yang jemarinya dengan cekatan membungkus asai sunti (belimbing wuluh yang dikeringkan) ke dalam plastik.
Di sudut lain, hamparan tikar pandan dipenuhi oleh hasil bumi yang segar. Tomat ranum, cabai caplak yang pedasnya menggigit, hingga sayur-sayuran hijau yang masih berembun dari dataran tinggi Gayo, berjajar rapi. Sistem transaksi di sini masih mempertahankan kehangatan komunal; senyum ramah, kelakar khas Aceh, dan diskon seribu-dua ribu rupiah yang diberikan sembari bersalaman menjadi pengikat hubungan yang erat antara pedagang dan pelanggan.

Riwayat Kota Industri yang Tetap Membumi
Krueng Geukuh secara geografis dikenal sebagai kawasan industri penopang Aceh Utara, rumah bagi pelabuhan berskala internasional dan bekas kejayaan industri vital nasional. Namun, di bawah bayang-bayang cerobong pabrik dan kemajuan infrastruktur, Uroe Peukan di Keudee Krueng Geukuh tetap mempertahankan wajahnya yang otentik dan bersahaja.
Pasar tradisional ini seolah menjadi penyeimbang. Ketika dunia luar bergerak dengan serba cepat dan mekanis, di dalam Uroe Peukan, waktu seolah melambat untuk memberi ruang bagi interaksi kemanusiaan yang jujur. Di sini, seorang buruh pabrik, petani berdasi, ibu rumah tangga, hingga pelancong dari luar daerah duduk setara di atas bangku kayu warung kopi tradisional, menikmati Seupot (makanan ringan khas) setelah lelah berbelanja.
Kuliner dan Jajanan Penggugah Selera
Melangkah lebih dalam ke area kuliner, kepulan asap dari panggangan ayam tangkap dan aroma kuah Pliek U yang gurih mengundang selera. Uroe Peukan adalah surga bagi pemburu kuliner tradisional yang kini mulai langka.
Pengunjung bisa menemukan kue-kue basah seperti timphan, apam, hingga es cendol segar yang manisnya menggunakan anau murni. Berburu kuliner di sini menjadi ritual wajib bagi siapa saja yang menapaki pasar ini, mengubah aktivitas belanja mingguan menjadi tamasya rasa yang memuaskan.
Bertahan Melintasi Generasi
Meski kini aplikasi belanja daring menawarkan kemudahan dalam satu ketukan layar, pesona Uroe Peukan Keudee Krueng Geukuh belum meredup. Ada sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh algoritma ponsel pintar: kehangatan sapaan, aroma tanah basah pasca-hujan di sela los pasar, dan kepuasan menyentuh langsung kesegaran ikan tongkol yang baru dipotong.
Saat matahari mulai meninggi dan sinarnya membakar atap-atap seng pasar, keramaian perlahan menyusut. Para pedagang mulai mengemas barang bawaan mereka,
menyisakan jejak-jejak transaksi hari itu. Uroe Peukan di Keudee Krueng Geukuh mungkin akan berakhir saat beduk zuhur berkumandang, namun nilai-nilai tradisi, kebersamaan, dan kegigihan hidup masyarakat Aceh Utara di dalamnya akan terus hidup, siap bersemi kembali pada pekan berikutnya.[]
Sumber kanal Pemkab Aceh Utara






