Oleh: Ferdi Dakio, S.I.K. (Serdik Sespimmen Dikreg ke-67)
SELAMA ini kita terbiasa percaya ketika melihat wajah seseorang dalam video atau mendengar suaranya melalui telepon. Jika wajah dan suaranya kita kenal, secara spontan kita menganggap orang tersebut benar-benar orang yang kita kenal.
Di era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), kebiasaan tersebut perlu mulai diubah.
Teknologi deepfake memungkinkan wajah, suara, foto, bahkan gerakan seseorang dimanipulasi sehingga menyerupai aslinya. Masalah muncul ketika teknologi tersebut digunakan untuk menipu, memeras, atau menyebarkan informasi palsu.
Ancaman ini sudah nyata. Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) menerima 1.379 laporan penipuan keuangan yang terindikasi memanfaatkan AI sejak November 2024 hingga akhir Juni 2026.
Suara yang Dikenal Belum Tentu Asli
Bayangkan Anda menerima telepon dari anak, pasangan, atasan, atau teman dekat. Suaranya terdengar sama. Ia mengatakan sedang mengalami masalah dan meminta uang segera ditransfer.
Naluri pertama tentu ingin membantu.
Namun teknologi voice cloning sekarang dapat meniru suara seseorang dari rekaman yang tersedia di ruang digital. Modus serupa dapat menggunakan video. Wajah tokoh publik dapat dibuat seolah-olah sedang menawarkan investasi, membagikan hadiah, atau mempromosikan program tertentu.
Karena itu, melihat wajah dan mendengar suara tidak lagi cukup untuk memastikan identitas seseorang.
Lakukan Satu Langkah Tambahan
Masyarakat tidak harus memahami teknologi AI secara teknis untuk melindungi diri. Kebiasaan sederhana justru sangat membantu.
Jika keluarga menelepon dan tiba-tiba meminta uang, jangan langsung mentransfer. Tutup telepon, kemudian hubungi kembali nomor yang biasa digunakan. Jika perlu, tanyakan sesuatu yang hanya diketahui oleh orang tersebut.
Keluarga juga dapat membuat kode sederhana untuk keadaan darurat. Ketika ada permintaan uang yang tidak biasa, tanyakan kode tersebut sebelum mengambil keputusan.
Begitu pula ketika melihat video tokoh terkenal menawarkan investasi atau hadiah. Jangan langsung percaya hanya karena wajah dan suaranya terlihat meyakinkan. Periksa akun resmi, situs resmi, atau pemberitaan dari sumber terpercaya.
Satu tanda lain yang perlu diwaspadai adalah desakan untuk bertindak cepat. Pelaku sering menggunakan kalimat seperti segera transfer, jangan beri tahu siapa pun, atau kesempatan hanya berlaku beberapa menit. Tujuannya sederhana: membuat korban tidak sempat berpikir dan melakukan verifikasi.
Jangan Ikut Menyebarkan
Bahaya deepfake juga dapat menyentuh keamanan dan ketertiban masyarakat. Video palsu yang menampilkan pejabat, anggota Polri, tokoh agama, atau figur publik dapat menimbulkan kemarahan dan kepanikan jika langsung dipercaya.
Sebelum meneruskan konten yang mengejutkan, tanyakan tiga hal: siapa sumbernya, apakah ada konfirmasi resmi, dan apakah sumber terpercaya juga memberitakannya?
Jika belum jelas, jangan ikut menyebarkan.
Teknologi AI akan terus berkembang. Masyarakat tidak perlu takut menggunakannya, tetapi cara kita memberikan kepercayaan harus ikut berubah.
Dulu kita mungkin percaya karena melihat videonya sendiri atau mendengar langsung suaranya. Sekarang, itu belum cukup.
Lihat, dengar, tetapi tetap verifikasi.
Beberapa menit untuk memastikan kebenaran dapat melindungi uang, data pribadi, nama baik, bahkan keselamatan kita dan keluarga.[Tribratanews]







