Mahasiswa KKN USK Olah Belimbing Wuluh Jadi Sabun Cupir

by

MEUREUDU – Penanews.co.idMahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Periode XXIX Kelompok R-111 Universitas Syiah Kuala (USK) menggelar pelatihan pemanfaatan belimbing wuluh menjadi sabun cuci piring (Cupir) ramah lingkungan di Meunasah Desa Mesjid Lancok, Kabupaten Pidie Jaya.

Kegiatan ini bertujuan mengenalkan inovasi pemanfaatan potensi lokal agar memiliki nilai guna dan nilai ekonomi yang lebih tinggi bagi masyarakat.

Pelatihan yang dimulai pukul 15.00 WIB tersebut diikuti sekitar 25 peserta yang terdiri atas anak-anak, remaja, hingga mahasiswa setempat. Selain mendapatkan penjelasan mengenai manfaat belimbing wuluh, peserta juga diajak mempraktikkan secara langsung proses pembuatan sabun cuci piring mulai dari pengolahan ekstrak buah hingga menghasilkan produk yang siap digunakan.

Program ini diinisiasi oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga USK, Novi Cristina Oktaviani. Menurutnya, belimbing wuluh yang selama ini banyak dimanfaatkan sebagai bahan asam sunti atau bumbu masakan memiliki potensi lain sebagai bahan baku sabun cuci piring karena mengandung asam alami dan memiliki sifat antibakteri.

“Selama ini belimbing wuluh di Desa Mesjid Lancok sangat melimpah, tetapi pemanfaatannya masih terbatas sebagai bahan masakan. Padahal kandungan alami di dalamnya memiliki sifat antibakteri dan tingkat keasaman yang baik untuk mengangkat lemak. Karena itu kami ingin mengenalkan pemanfaatan baru yang lebih berguna dan ramah lingkungan bagi kebutuhan sehari-hari masyarakat,” ujar Novi.

Ia berharap inovasi sederhana tersebut dapat menjadi alternatif bagi masyarakat dalam memanfaatkan hasil pekarangan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk berbahan kimia.

Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan tahapan pembuatan sabun cuci piring secara sederhana sehingga dapat dipraktikkan kembali di rumah. Pada akhir kegiatan, setiap peserta membawa pulang sampel sabun hasil praktik bersama sebagai bahan pembelajaran sekaligus motivasi untuk mengembangkan produk secara mandiri.

Sabun cuci piring berbahan dasar belimbing wuluh memiliki sejumlah keunggulan, diantaranya biaya produksi yang relatif terjangkau, aman digunakan pada tangan, serta efektif menghilangkan minyak dan bau amis pada peralatan dapur.

Salah seorang peserta, Nafisa, mengaku memperoleh pengalaman baru melalui pelatihan tersebut. Menurutnya, inovasi yang diperkenalkan mahasiswa KKN memberikan manfaat yang dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Biasanya belimbing wuluh di pekarangan hanya dibiarkan jatuh atau dibuat asam sunti. Setelah mengikuti pelatihan ini, saya baru tahu buah tersebut bisa diolah menjadi sabun cuci piring yang proses pembuatannya cukup sederhana dan hasilnya efektif menghilangkan bau amis. Ilmu seperti ini sangat bermanfaat untuk kami,” katanya.

Sementara itu, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Kelompok KKN R-XXIX-111 USK, Mukhrijal, M.I.P., mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk pengabdian mahasiswa yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal.

Menurutnya, KKN tidak hanya menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menjalankan program kerja, tetapi juga menjadi sarana menghadirkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“Belimbing wuluh merupakan salah satu potensi lokal yang banyak dijumpai di lingkungan desa. Melalui inovasi sederhana ini, mahasiswa menunjukkan bahwa sumber daya yang tersedia di sekitar masyarakat dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat, memiliki nilai tambah, serta mendukung gaya hidup yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya.

Kelompok KKN R-XXIX-111 terdiri atas tujuh mahasiswa lintas disiplin ilmu, yaitu Agus Aulia (Ilmu Hukum), Razian Sabri (Informatika), Alfi Rahmaini (Pendidikan Sejarah), Chila Zara Janiesa (Ilmu Komunikasi), Rizka Salasih (Manajemen), Novi Cristina Oktaviani (Pendidikan Kesejahteraan Keluarga), dan Tiara Ramadhany Putri (Ilmu Keperawatan). Melalui kolaborasi lintas keilmuan tersebut, mereka berkomitmen menghadirkan berbagai program pengabdian yang mampu mengoptimalkan potensi desa sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

ya