Menag Ajak Masyarakat Lestarikan Tradisi Bersarung dan Berpeci sebagai Identitas Nusantara

by
Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mengenakan sarung dengan motif khas Sulawesi Selatan pada acara Festival Sarung & Peci Santri, Jumat (23/10/2026) | foto : ist

JAKARTA – Penanews.co.id – Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak masyarakat, khususnya jajaran Kementerian Agama, untuk melestarikan tradisi mengenakan sarung dan peci sebagai bagian dari identitas kebangsaan, nilai spiritual, serta kekayaan budaya Nusantara.

Menurut Nasaruddin, sarung bukan sekadar busana, tetapi juga mengandung filosofi persatuan, kesetaraan, dan kebebasan. Keberagaman warna dan motif sarung dari berbagai daerah turut mencerminkan kekayaan budaya Indonesia.

“Sarung itu juga memiliki filosofis. Sarung itu berbentuk bundar. Artinya, sarung itu menyatukan, simbol kesetaraan, dan simbol kebebasan,” ujar Nasaruddin di Jakarta, Jumat (23/10/2026).

Ia juga menjelaskan bahwa peci memiliki kedudukan penting dalam tradisi adat dan keagamaan. Pada masa lalu, di sejumlah wilayah, peci bahkan menjadi bagian dari ketentuan bagi orang yang memberikan kesaksian di persidangan karena dipandang mencerminkan kewibawaan dan kebenaran.

Seiring perkembangannya, peci juga menjadi bagian dari busana kebangsaan yang dikenakan masyarakat lintas agama dalam berbagai acara kenegaraan.

Nasaruddin mengajak insan Kementerian Agama untuk terus menjaga dan memasyarakatkan tradisi bersarung dan berpeci, sekaligus mendorong inovasi model agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

“Kita dibesarkan oleh budaya. Kita juga harus membesarkan budaya itu sendiri. Saya kira siapa lagi yang bisa memasyarakatkan kembali kalau bukan kita, Kementerian Agama?” katanya.

Penguatan Tradisi Nusantara

Sementara itu, Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said, mengatakan tradisi bersarung dan berpeci terus dipertahankan di lingkungan pondok pesantren sebagai bagian dari budaya Nusantara.

Menurutnya, sarung dan peci tidak sepatutnya dipandang sebagai busana kampungan. Sebaliknya, keduanya merepresentasikan kepribadian, kesederhanaan, kedalaman ilmu, serta nilai moral.

“Sering ada yang mengatakan memakai sarung itu kampungan, padahal sarung adalah tradisi Nusantara. Sarung justru menjadi identitas kepribadian, kesederhanaan, kedalaman ilmu, bahkan simbol penjaga moral bangsa,” tegas Basnang.

Ia menambahkan, keberagaman tenun sarung dari berbagai daerah merupakan salah satu wujud semangat Bhinneka Tunggal Ika yang perlu terus dijaga.

Basnang juga mendorong pegawai Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama untuk lebih sering mengenakan kombinasi sarung dan peci saat berkantor sebagai salah satu upaya memperkuat tradisi Nusantara di lingkungan pemerintahan.[]

ya