BANDA ACEH – Penanews.co.id — Publik dunia sempat dilingkupi kebingungan ketika mendengar kabar bahwa prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, baru akan digelar pada awal Juli 2026. Padahal, sang pemegang otoritas teokrasi tertinggi itu telah dinyatakan wafat pada tanggal 28 Februari 2026. Ia wafat akibat serangan udara bersamaan dengan operasi militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel di Teheran, Iran.
Menunda pemakaman seorang tokoh besar hingga lebih dari tiga bulan bukanlah sekadar urusan teknis birokrasi, melainkan sebuah keputusan geopolitik tingkat tinggi yang penuh kalkulasi dan kecemasan. Teheran tidak sedang menunda ritual; mereka sedang mengulur waktu demi menyelamatkan rezim.
Logika utama di balik keputusan ekstrem ini adalah trauma masa lalu dan ketakutan akan runtuhnya stabilitas. Pemerintah Iran tentu belum melupakan horor logistik pada pemakaman Ayatollah Ruhollah Khomeini tahun 1989.
Kala itu, jutaan massa yang histeris merangsek hingga merusak peti mati, memaksa prosesi diulang menggunakan helikopter. Dengan menunda pemakaman dan memecah prosesi penghormatan ke berbagai kota secara bertahap, Teheran secara cerdik sedang melakukan desentralisasi massa.
Mereka sengaja mengurai emosi publik agar tidak meledak di satu waktu dan satu tempat, yang berpotensi memicu kerusuhan mematikan.
Namun, alasan keamanan domestik hanyalah permukaan dari gunung es yang lebih besar. Alasan sesungguhnya berada di ruang-ruang gelap geopolitik.
Wafatnya seorang Pemimpin Tertinggi selalu menciptakan ruang hampa kekuasaan (power vacuum) yang sangat rentan. Di tengah kondisi gencatan senjata yang rapuh dengan Amerika Serikat, memperlihatkan kelemahan internal sama saja dengan mengundang petaka.
Penundaan selama seratus hari ini memberi waktu yang sangat krusial bagi Assembly of Experts (Majelis Ahli) untuk mengonsolidasikan kekuasaan dan menunjuk suksesor baru di balik layar tanpa intervensi asing atau kepanikan pasar. Iran butuh waktu untuk memastikan bahwa ketika jenazah Khamenei diturunkan ke liang lahat, nakhoda baru sudah berdiri tegak memegang kendali negara.
Bagi masyarakat awam, menahan jenazah selama berbulan-bulan mungkin terasa ganjil, bahkan menabrak pakem agama. Namun, dalam lanskap fikih Syiah Ja’fari yang dinamis, keputusan ini memiliki legitimasi kuat lewat prinsip Maslahat—yaitu mengutamakan kepentingan dan keselamatan umat di atas segalanya.
Menggunakan teknologi penyimpanan suhu dingin (kriogenik) untuk menjaga kehormatan jenazah adalah kompromi medis yang sah demi menghindari mudarat politik yang lebih besar.
Pada akhirnya, penutupan rangkaian prosesi panjang ini di kota kelahiran Khamenei, Mashhad—rumah bagi Makam Imam Reza yang suci—bukan sekadar penentuan lokasi geografis. Ini adalah pernyataan simbolis bahwa sang pemimpin kembali ke akar spiritualnya dalam kondisi negara yang tetap kokoh.
Penundaan pemakaman ini menjadi bukti nyata bagaimana Teheran mengelola krisis: kalkulatif, pragmatis di bawah payung ideologis, dan selalu menempatkan kelangsungan hidup negara di atas segalanya, bahkan di hadapan kematian itu sendiri. (Burd/dari berbagai sumber)







