RI Siap Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir pada Tahun 2032, Penguasaan Teknologi dan SDM Sudah Ready

by

JAKARTA – Penanews.co.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan kesiapan penuh dari sisi infrastruktur riset, penguasaan teknologi, dan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mendukung target pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama di Indonesia pada tahun 2032. 

Direktur Kebijakan Lingkungan Hidup, Kemaritiman, Sumber Daya Alam, dan Ketenaganukliran BRIN, Ratih Damayanti, menyatakan, energi nuklir kini telah bertransformasi perannya pada arah transisi energi nasional. 

“Energi nuklir bukan lagi sekadar opsi alternatif, melainkan menjadi enabler utama untuk mencapai net zero emission,” ujarnya, di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, dnukil Penanews.co.id dari kanal resmi BRI , Kamis (5/11/2026).

Menurut Ratih, pembangunan PLTN bukan semata-mata urusan lingkungan, melainkan penyediaan energi yang esensial untuk menjaga stabilitas sistem kelistrikan dan mengamankan daya saing industri nasional di kancah global. 

“Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy berdaya 30 MW di Serpong, Reaktor Triga 2000 di Bandung, serta Reaktor Kartini di Yogyakarta. Tiga fasilitas reaktor milik kita tersebut adalah bukti empiris bahwa penguasaan teknologi, budaya keselamatan, dan operasional reaktor nuklir dalam negeri telah teruji secara internasional,” ungkap Ratih. 

Kesiapan infrastruktur tersebut didukung oleh riset mendalam BRIN yang telah memetakan puluhan tapak potensial PLTN di Indonesia dari kacamata geologi, keekonomian, dan keselamatan. Untuk memastikan operasional yang aman di sisi hilir, BRIN juga telah mengoperasikan fasilitas pengelolaan limbah radioaktif sebagai jaminan perlindungan kelestarian lingkungan.

Sebagai pelengkap sekaligus fondasi utama beroperasinya PLTN, BRIN menaruh perhatian sangat besar pada penyiapan ahli dan teknokrat nuklir. 

“Inovasi teknologi setinggi apa pun tidak akan berjalan tanpa SDM yang andal dan berkelanjutan. Penyiapan SDM adalah prioritas terbesar kita saat ini,” tegas Ratih.

Berbagai inisiatif inklusif telah digulirkan, mulai dari peluncuran program beasiswa riset dan pendidikan teknik nuklir lintas universitas, hingga pendekatan edukasi kepada generasi muda melalui ajang Science Festival 2026. Guna memperkuat standar kepatuhan regulasi dan pengawasan, BRIN juga terus mengakselerasi kolaborasi global secara ekstensif dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) serta berbagai negara mitra.

Kesiapan ini disuarakan dalam Seminar Nasional bertema “PLTN 2032: Siap Dibangun, Siap Dibiayai, Siap Diawasi?” hasil kolaborasi BRIN, Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia (HIMNI), dan Majalah Listrik Indonesia. 

Ketua Umum HIMNI, Djarot Sulistio Wisnubroto, menggarisbawahi pentingnya keseriusan dan aksi nyata kolaboratif lintas sektor untuk mengejar target PLTN 2032. Djarot menyoroti bahwa iklim dukungan pemerintah saat ini jauh lebih solid dan HIMNI siap mendukung penuh langkah tersebut.

“Kami ingin serius hingga 2032, maka harus bergerak mulai sekarang. Tentu saja tidak hanya bergantung pada pemerintah saja, tetapi kita semua harus saling mendukung. Dalam hal ini, HIMNI akan siap sedia untuk bekerja sama, dan tugas kami adalah menyosialisasikan apa itu energi nuklir dan teknologi nuklir secara keseluruhan,” ujar Djarot.

Lebih lanjut, ia berharap kolaborasi ini mampu menghasilkan langkah yang konkret, terjangkau secara finansial, dan sejalan dengan visi besar kemandirian energi nasional yang diusung oleh pemerintah.

“Semoga seminar ini memberikan satu sentimen yang lebih membumi bagaimana kita menuju target 2032. Memilih teknologi apa yang layak, secara finansial juga bisa kita kejar targetnya, sekaligus mendukung apa yang disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia. Target kita tidak hanya soal swasembada pangan saja, tapi bagaimana energi kita juga mandiri. Energi nuklir adalah salah satu opsi bagi Indonesia,” pungkasnya. []