LHOKSUKON – Penanews.co.id – Sayup-sayup instrumen kayu mengalun nyaring memecah keheningan di sebuah rumah di pelosok Gampong Paya Teungoh, Kecamatan Simpang Keuramat, Kabupaten Aceh Utara. Suara “tang-ting-tung” yang ritmis itu keluar dari ketukan jemari renta Teungku Muhammad Isa Daud—atau yang akrab disapa Utoh Amad. Di usianya yang telah menginjak 89 tahun, pria bersahaja ini berdiri sebagai benteng pertahanan terakhir bagi kelestarian Canang Ceureukeh, alat musik tradisional legendaris khas wilayah pasca-panen Aceh Utara yang kini berada di ambang kepunahan.
Denting Agraris Warisan Endatu
Bagi masyarakat modern, Canang Ceureukeh mungkin terdengar asing. Berbeda dengan Canang di wilayah Gayo yang berbahan kuningan, Canang Ceureukeh murni terbuat dari kayu pilihan. Konstruksinya terdiri dari empat bilah kayu berukuran presisi yang disusun berjejer di atas sebuah bantalan penopang. Ketika dipukul dengan alat pemukul kayu, ia menghasilkan nada idiopen yang sangat nyaring dan memanjakan telinga.

“Dulu, Canang Ceureukeh ini kami mainkan di sawah untuk mengusir burung-burung perusak padi,” kenang Utoh Amad mengenang masa kecilnya. “Ini adalah keuneubah endatu (warisan leluhur). Bukan sekadar alat musik hiburan, melainkan bagian dari detak kehidupan sosial, tradisi, dan ritual syukur agraris masyarakat kami usai panen raya melimpah”.
Seiring hilangnya hamparan sawah tradisional dan bergantinya zaman, fungsi Canang Ceureukeh ikut tergerus. Di tengah gempuran modernisasi, nama Muhammad Isa Daud menjadi sangat krusial; ia adalah satu-satunya maestro yang tersisa yang masih menguasai teknik pembuatan (organologi) sekaligus cara memainkan instrumen empat nada ini.

Merawat Jiwa dari Bengkel Sederhana
Menjadi pengrajin alat musik tradisional adalah jalan hidup yang ditekuni Utoh Amad untuk menghidupi keluarga. Di bengkel kayunya yang sederhana, ia tidak hanya merakit Canang Ceureukeh. Tangannya yang terampil juga melahirkan instrumen magis Aceh lainnya seperti Rapa’i Geleng, Serune Kalee, Geundrang, hingga Tambo. Dedikasinya yang luar biasa bahkan membawa beberapa karya rakitannya—terutama rapa’i—menembus pasar internasional.
Bagi Teungku Muhammad Isa, sebilah kayu bukan sekadar komoditas. “Setiap kayu memiliki jiwa,” ungkapnya. Memilih kayu yang tepat, menjemurnya hingga kering sempurna, hingga memahatnya agar menghasilkan frekuensi nada yang pas memerlukan ketajaman rasa yang hanya dimiliki seorang maestro sejati.
Berkat ketekunan sang maestro dan nilai sejarahnya yang tinggi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi resmi menetapkan Canang Ceureukeh sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia melalui SK Nomor 414/P/2022. Bahkan, instrumen langka ini sempat menarik perhatian lembaga internasional dan didokumentasikan lewat program Endangered Material Knowledge Program (EMKP) oleh British Museum
Cemas di Balik Harapan Masa Depan
Meski telah mendapat pengakuan nasional hingga dunia, wajah keriput Utoh Amad kerap menyimpan kecemasan. Ia menyoroti minimnya minat generasi muda Aceh saat ini untuk menyentuh budaya indatunya sendiri karena imbas budaya populer.
“Sekarang sudah sangat langka, peminatnya sedikit sekali,” keluhnya lirih. Ia khawatir, jika tidak ada regenerasi, suatu saat generasi Aceh hanya akan mendengar istilah canang lewat pepatah-pepatah tua tanpa pernah tahu wujud aslinya.
Namun, harapan itu belum sepenuhnya padam. Beberapa lembaga kebudayaan dan institusi pendidikan kini mulai turun tangan. Pemerintah daerah secara bertahap mengupayakan agar Canang Ceureukeh ditampilkan dalam acara-acara resmi, festival budaya, hingga masuk ke dalam kurikulum pembelajaran muatan lokal di sekolah dan kampus setempat.
Di usia senjanya, di bawah atap rumahnya di Aceh Utara, Teungku Muhammad Isa Daud akan terus memahat. Setiap pukulan palunya pada bilah kayu adalah sebuah doa dan ikhtiar, memastikan agar melodi indah dari masa lalu tidak senyap ditelan waktu.[]
1 Oktober 2026
Sumber Zulfadli Kawom/kanal Pemkab Aceh Utara







