BANDA ACEH – Penanews.co.id – Kabar duka yang menggegerkan datang dari Samarinda, Kalimantan Timur. Mandala Rizky Syaputra (16), seorang pelajar SMK, dilaporkan mengembuskan napas terakhirnya setelah berjuang melawan penyakit yang diduga dipicu oleh mengenakan sepatu sekolah yang kekecilan sehingga ramai diperbincangkan warga.
Tragedi memilukan ini tidak hanya meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi orang-orang terdekatnya, tetapi juga membuka mata publik mengenai potret pilu keterbatasan ekonomi yang dihadapi oleh keluarga mendiang.
Mendengar kabar tersebut, Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kaltim segera mengambil tindakan. NGO lokal ini menerima laporan terkait kondisi Mandala pada 25 April 2026. Guna mengumpulkan informasi lebih lanjut dan menelusuri kronologi kejadian, tim langsung bergerak mengunjungi rumah duka untuk menemui pihak keluarga.
Ketua TRC PPA Kaltim, Rina Zainun, mengungkapkan bahwa Mandala merupakan anak yatim yang tinggal bersama satu kakak dan tiga adiknya. Sang ibu, Ratnasari, bekerja sebagai penjual risoles keliling dengan penghasilan terbatas.
Sejak kelas 1 SMK, Mandala menggunakan sepatu ukuran 43. Namun, saat naik ke kelas 2, ukuran kakinya bertambah menjadi 45. Karena keterbatasan ekonomi, sepatu lama tetap digunakan dengan cara dimodifikasi menggunakan busa agar terasa lebih longgar.
“Sepatu itu tetap dipakai setiap hari. Bahkan diganjal dengan foam agar tidak terlalu keras, tapi justru menyebabkan kakinya bengkak,” ujar Rina, dilansir Penanews.co.id dari Law Justice, Selasa (5/5/2026)
Kondisi tersebut diperparah saat Mandala menjalani kegiatan magang di pusat perbelanjaan yang mengharuskannya berdiri dalam waktu lama. Selama sekitar satu bulan, keluhan nyeri di kaki semakin memburuk dan menjalar hingga ke pinggang dan kepala.
Ibu korban, Ratnasari, menuturkan bahwa awalnya anaknya hanya mengeluhkan sakit ringan. Namun, dalam waktu sekitar tiga minggu, pembengkakan mulai terlihat dan rasa sakit semakin intens.
“Kurang lebih dua minggu pertama belum ada bengkak. Setelah sekitar 20 hari, bagian atas kaki mulai membesar,” katanya.
Meski sakit, Mandala tetap menjalani aktivitas sehari-hari, termasuk magang. Ia lebih banyak berdiri dan hanya duduk saat waktu istirahat. Keluhan biasanya disampaikan setelah pulang ke rumah.
Sehari sebelum meninggal dunia, kondisi Mandala semakin memburuk. Pembengkakan di kaki terlihat parah. Ia sempat mendapatkan penanganan berupa suntikan di klinik sekitar lingkungan tempat tinggal.
“Setelah disuntik, dia bilang sudah tidak terlalu sakit. Kami kira membaik,” ujar Ratnasari.
Ingin Sepatu Baru
Namun, pada Jumat (24/4/2026), Mandala meninggal dunia. Menurut keterangan keluarga, malam sebelum meninggal, ia sempat menyampaikan keinginan terakhir untuk memiliki sepatu baru. Permintaan itu belum dapat dipenuhi.
“Dia bilang ingin sepatu untuk terakhir kalinya. Tapi saya tidak bisa membelikan,” tutur Ratnasari.
Karena keterbatasan, proses pemulasaran hingga pemakaman jenazah mendapat bantuan dari pihak sekolah, termasuk fasilitas ambulans.
Peristiwa ini menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk TRC PPA Kaltim, yang menilai kasus tersebut mencerminkan masih adanya kerentanan sosial di masyarakat, khususnya terkait akses terhadap kebutuhan dasar dan layanan kesehatan.[]
Skip to content





