JAKARTA – Penanews.co.id – Bareskrim Polri akhirnya menetapkan pendakwah asal mesir Syekh Ahmad Al Misry atau SAM sebagai tersangka dalam perkara dugaan pelecehan seksual sesama jenis. Kepastian status hukum ini ditetapkan penyidik setelah melakukan gelar perkara secara mendalam untuk memvalidasi laporan yang ada. Keputusan penyidik ini menandai kemajuan signifikan dalam penuntasan kasus yang pertama kali mencuat pada penghujung tahun 2025 tersebut.
“Berdasarkan pelaksanaan gelar perkara, penyidik telah menetapkan saudara SAM sebagai tersangka,” ujar Trunoyudo, dilansir Viva.co.id, Jumat, 24 April 2026.
Kasus ini bermula dari laporan polisi bernomor LP/B/586/XI/2025/SPKT/Bareskrim Polri tertanggal 28 November 2025. Penanganannya berada di bawah Direktorat Tindak Pidana Perempuan dan Anak serta Pidana Perdagangan Orang (Dittipid PPA dan PPO) Bareskrim Polri, yang saat ini terus mendalami keterangan para saksi dan korban.
Di tengah proses hukum yang berjalan, muncul pula kesaksian dari seorang kreator konten TikTok, Risyad Baya’sud, yang mengaku pernah berinteraksi langsung dengan tersangka. Ia bahkan menyebut adanya dugaan bahwa sejumlah korban berasal dari wilayah Bogor.
“Pada sekitar 1 tahun atau 2 tahun yang lalu saya tuh silaturahmi ke kediaman kawan saya di Bogor. Korban-korban itu kan di Bogor, ada salah satu kawan saya yang saya silaturahmi ke tempat dia,” kata Risyad Baya’sud, mengutip video TikToknya.
Dalam penuturannya, Risyad menceritakan momen ketika ia menunjukkan foto kebersamaannya dengan Syekh Ahmad Al Misry kepada teman-temannya di Bogor. Reaksi yang muncul justru di luar dugaan.
“Kemudian, ketika saya menunjukan satu galeri, yaitu foto tadi yang saya liatin tadi, mereka semua tertawa mereka semua merasa kayak ‘Innalillah wa inna ilaihi raji’un, awas hati-hati’. Kemudian saya mikir, hati-hati gimana? apakah pemahaman beliau yang tidak sesuai dengan syariat atau apa? karena biasanya kalau orang bilang hati-hati sama seorang pandai atau ustad mungkin karena pemahamannya,” jelas Risyad.
Ia mengaku awalnya tidak memahami maksud peringatan tersebut. Namun, setelah didesak rasa penasaran, salah satu temannya akhirnya mengungkap pengalaman yang mengejutkan.
“Ternyata tidak, kawan saya itu bercerita bahwa dia adalah hampir menjadi korban. hampir menjadi korban dari kasus yang sekarang akhirnya terkuak,” bebernya.
Lebih lanjut, Risyad menuturkan bahwa dirinya sempat menegur temannya agar berhati-hati dalam berbicara mengenai seorang ulama. Namun, ia juga menyadari bahwa kebenaran pada akhirnya akan terungkap.
“Sekarang kan baru terkuak dan pada saat itu saya bilang, ‘Jaga lisan kamu ini ulama, dagingnya ulama itu beracun’. Tapi yang namanya keburukan, yang namanya kebusukan, pasti akan tercium dan akan terbuka,” ujarnya.
Kesaksian tersebut menambah sorotan publik terhadap kasus ini, terutama terkait dugaan adanya korban di wilayah Bogor. Meski demikian, pihak kepolisian belum merinci jumlah maupun sebaran korban secara resmi.
Hingga kini, penyidik masih terus mendalami kasus tersebut dengan mengumpulkan bukti tambahan serta keterangan dari berbagai pihak. Publik pun menanti perkembangan lebih lanjut terkait pengungkapan fakta-fakta baru dalam perkara yang menyita perhatian luas ini.[]
Informasi tambahan dikutip dari blog.amikom.ac.id, Profil Syekh Ahmad Al Misry yang paling dikenal publik adalah seorang pendakwah asal Mesir yang sudah lama tinggal dan berdakwah di Indonesia.
Ia dikenal dengan gaya ceramah yang tenang, lembut, dan mudah dipahami, sehingga banyak jamaah yang merasa nyaman mendengarkannya.
Suaranya yang khas dan penyampaiannya yang santun membuatnya sering diundang mengisi kajian di berbagai majelis taklim, pesantren, hingga acara keagamaan skala besar.
Secara fisik, Syekh Ahmad Al Misry biasanya tampil dengan jubah putih khas ulama Timur Tengah, sorban, dan jenggot yang rapi.
Penampilannya selalu rapi dan bersih, yang membuat banyak orang langsung merasa hormat saat bertemu dengannya.
Ia lahir di Mesir. ia dikenal sebagai warga negara Mesir yang sudah cukup lama bermukim di Indonesia. Banyak jamaah yang menyebutnya “Syekh Mesir” karena latar belakangnya yang jelas berasal dari negeri para ulama tersebut.
Ia datang ke Indonesia untuk berdakwah dan akhirnya menetap di sini, membangun hubungan yang cukup dekat dengan masyarakat Indonesia.[]
Skip to content





