BANDA ACEH — Penanews.co.id – Sejumlah aktivis internasional yang sempat ikut serta dalam misi kemanusiaan ke Jalur Gaza kini bersuara mengenai perlakuan kejam yang mereka alami di balik jeruji besi Israel. Para relawan ini mengaku menjadi korban kekerasan fisik hingga pelecehan seksual selama masa penahanan.
Laporan mengerikan ini diperkuat oleh pernyataan pihak penyelenggara Global Sumud Flotilla, yang mengungkapkan bahwa sedikitnya 15 aktivis mendapat serangan seksual, bahkan beberapa di antaranya diduga mengalami pemerkosaan saat berada dalam sanderaan Israel.
“Setidaknya 15 kasus penyerangan seksual, termasuk pemerkosaan. Ditembak dengan peluru karet dari jarak dekat. Puluhan orang mengalami patah tulang,” tulis penyelenggara Global Sumud Flotilla melalui akun Telegram resmi mereka.
Pernyataan itu disampaikan setelah sejumlah aktivis dibebaskan dan menjalani perawatan medis di rumah sakit akibat luka yang mereka alami selama penahanan.
Penyelenggara juga menuding perlakuan terhadap para aktivis hanya sebagian kecil dari tindakan yang disebut rutin dialami warga Palestina di bawah penahanan Israel.
“Meskipun perhatian dunia tertuju pada penderitaan para peserta kami, kami ingin menekankan bahwa ini hanyalah sekilas gambaran dari kebrutalan yang dilakukan Israel setiap hari terhadap sandera Palestina,” lanjut pernyataan tersebut.
Salah satu aktivis asal Italia, Luca Poggi, mengaku dirinya bersama peserta lain mengalami perlakuan kasar setelah ditangkap.
“Kami dilucuti pakaiannya, dilempar ke tanah, ditendang,” kata Poggi.
“Banyak dari kami disetrum dengan alat kejut listrik, beberapa mengalami pelecehan seksual, dan beberapa dilarang mengakses pengacara,” tambahnya.
Saat tiba di Paris pada Jumat (22/05), aktivis Prancis, Meriem Hadjal, mengatakan kepada wartawan bahwa ia “mengalami kekerasan seksual dan diraba”.
Dia menambahkan: “Saya dipukul, ditampar, disentuh, ditendang di tulang rusuk, rambut saya dijambak. Saya mengalami trauma selama berjam-jam.”
Sementara Dua warga Italia yang dideportasi pada Kamis (21/05)—Alessandro Mantovani, jurnalis surat kabar Il Fatto Quotidiano, dan Dario Carotenuto, anggota parlemen dari Gerakan Bintang Lima—menuturkan perlakuan yang mereka terima saat berada di Israel.
Mantovani mengatakan dirinya dipukuli oleh pasukan Israel setelah dibawa ke fasilitas penahanan yang terbuat dari kontainer. Dia menyebutnya “tempat teror”.
Di bandara Istanbul, aktivis UK, Richard Johan Anderson, mengatakan kepada wartawan: “Kami dipukuli, disiksa, secara sistematis diperlakukan tidak manusiawi, dan… kami baru saja merasakan sedikit dari apa yang dialami rakyat Palestina setiap hari.”
Adalah, kelompok hak asasi yang berbasis di Israel dan mewakili para tahanan, sebelumnya mengatakan terjadi “cedera parah yang meluas”. Setidaknya tiga orang dibawa ke rumah sakit untuk perawatan.
Kelompok tersebut mengatakan pengacaranya, yang berbicara dengan ratusan aktivis di Pelabuhan Ashdod, menerima “sejumlah besar keluhan mengenai kekerasan ekstrem” oleh otoritas Israel.
Kasus ini bermula ketika angkatan laut Israel mencegat sekitar 50 kapal bantuan internasional yang membawa bantuan kemanusiaan menuju Gaza pada Selasa (19/5/2026). Sekitar 430 aktivis dari berbagai negara kemudian ditahan.
Sejumlah negara Eropa kini ikut menyoroti kasus tersebut. Pemerintah Jerman menyatakan beberapa warga negaranya mengalami luka fisik dan dugaan pelanggaran serius selama penahanan.
“Perlakuan manusiawi terhadap warga negara Jerman adalah prioritas mutlak,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Jerman.
“Kami tentu mengharapkan penjelasan lengkap, karena beberapa tuduhan yang telah diajukan cukup serius,” tambahnya.
Sementara itu, Sabrina Charik yang membantu pemulangan 37 warga Perancis mengatakan lima aktivis Perancis harus dirawat di rumah sakit di Turkiye akibat cedera serius, termasuk patah tulang rusuk dan cedera tulang belakang.
Ia juga menyebut sejumlah korban telah memberikan laporan rinci terkait dugaan kekerasan seksual selama penahanan.
Mengutip BBC Indonesia, awal pekan ini, Israel menghadapi kecaman lebih dari 20 negara terkait aksi Menteri Keamanan Nasional, Itamar Ben Gvir, yang membawahi lembaga pemasyarakatan dan kepolisian Israel.
Video tersebut menunjukkan dia mengejek puluhan aktivis ketika mereka dipaksa berlutut dengan tangan diborgol dan bersujud.
Para aktivis juga terlihat diperlakukan secara kasar oleh pasukan Israel.
Hal ini memicu kritik langka terhadap tindakan Ben Gvir dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang mengatakan tindakan tersebut “tidak sesuai dengan nilai-nilai Israel”.
Lebih dari 50 kapal dalam Global Sumud Flotilla 2.0 berlayar dari Turki, pekan lalu, dengan rencana menembus blokade maritim Israel terhadap Gaza dan mengirimkan makanan serta bantuan medis.
Pada Senin (18/05) pagi, pasukan Angkatan Laut Israel mulai mencegat rombongan tersebut di perairan internasional sebelah barat Siprus, sekitar 460 km dari pantai Gaza, yang berada di bawah blokade maritim Israel.
Para relawan dan aktivis yang ditahan dipindahkan ke kapal Israel, dibawa ke Pelabuhan Ashdod, lalu dipindahkan ke penjara Israel.
Pada Kamis (21/05), 422 orang dari 41 negara dideportasi oleh Israel, termasuk sembilan warga Indonesia.
Banyak dari mereka sejak itu telah tiba kembali di negara asal masing-masing.
Kasus ini kini memicu tekanan internasional terhadap pemerintah Israel. Pemerintah Italia menyebut negara-negara Uni Eropa sedang membahas kemungkinan pemberian sanksi terhadap Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir setelah beredar video dirinya mengejek para aktivis di dalam penjara.
Israel Bantah Tuduhan
Israel membantah seluruh tuduhan tersebut. Layanan penjara Israel menyatakan para tahanan diperlakukan sesuai hukum dan hak dasar mereka tetap dihormati.
“Tuduhan yang dilayangkan adalah salah dan sama sekali tanpa dasar faktual,” kata juru bicara layanan penjara Israel.
“Semua tahanan dan narapidana ditahan sesuai dengan hukum, dengan menghormati sepenuhnya hak-hak dasar mereka dan di bawah pengawasan staf penjara yang profesional dan terlatih,” tambahnya.
Kasus ini kini memicu tekanan internasional terhadap pemerintah Israel. Pemerintah Italia menyebut negara-negara Uni Eropa sedang membahas kemungkinan pemberian sanksi terhadap Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir setelah beredar video dirinya mengejek para aktivis di dalam penjara.[]
Skip to content





