Paradoks Semen Lhoknga

by

Oleh ; Prof. Izarul Machdar

SAYA menggeleng-gelengkan kepala beberapa hari ini. Kemarin sore, di sebuah warung kopi di Lampriet, seorang kawan lama mengeluh. Dia sedang membangun dapur rumahnya. Ukurannya tak seberapa, hanya 3 x 4 meter. Tapi pengerjaannya mandek. Penyebabnya sederhana tapi bikin elus dada: harga semen ke langit.

Di toko-toko bangunan sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar, semen tembus Rp 100 ribu per sak. Bahkan ada yang menjual lebih dari itu saat stok menipis. Kawan saya itu terpaksa meliburkan tukangnya. “Seminggu ini aku tahan dulu,” katanya sambil menyeruput sanger panas. “Kalau diteruskan, dompet aku bisa jebol.”
Saya tersenyum kecut. Tapi di dalam hati, ada yang tersendat…

Banda Aceh ini aneh. Atau mungkin, unik. Cobalah Anda naik kenderaan dari pusat Kota Banda Aceh ke arah barat. Menyisiri jalan pesisir yang indah itu. Tidak sampai 20 menit (sekitar 17 km), Anda sudah tiba di Lhoknga. Di sana, di sebelah kanan ada pantai dan laut yang indah. Di sebelah kiri, berdiri kokoh sebuah megastruktur: pabrik semen yang sangat legendaris.

Kilang raksasa itu bernama PT Solusi Bangun Andalas (SBA). Dulu, sebelum tsunami, orang mengenalnya sebagai PT Semen Andalas Indonesia. Cerobong pabriknya menjulang tinggi. Asapnya membumbung ke langit. Setiap hari, gunung batu kapur di sana dikeruk untuk dibawa ke pabrik. Warga Lhoknga dan sekitarnya sudah bertahun-tahun hidup berteman dengan suara gemuruh mesin dan debu halus yang hinggap di daun-daun pisang di pekarangan rumah mereka.

Artinya apa? Semen itu dibikin di depan mata kita. Batu kapurnya diambil dari perut bumi kita (Aceh). Batubara sebagai sumber energinya ada di sekitar lokasi (Aceh Barat). Lalu, kenapa harga semen di toko bangunan di Banda Aceh — yang jaraknya cuma secangkir kopi dari lokasi pabrik — bisa melejit setinggi awan?

Aneh bin super aneh lagi, semen yang pabriknya ada di Pulau Jawa, bisa dijual di Banda Aceh dengan harga lebih murah hingga 10 ribu perak dibandingkan dengan semen dari Lhoknga. (Pengalaman pribadi… …bukan dengar dari teman tadi).

Mengapa harga semen lebih murah, yang notabene pabriknya berjarak beribu kilometer dari lokasi konsumen.
Inilah yang saya tulis di judul sebagai Paradoks Semen Lhoknga.

Saya dosen Teknik Kimia, bukan dosen Ekonomi. Tapi, semua orang awam tau, teori ekonomi paling dasar mengajarkan soal ekonomi spasial. Makin dekat konsumen dengan sumber bahan baku atau pabrik, makin murah biaya logistiknya.

Biaya angkutnya harusnya nol koma sekian persen. Rumusnya simpel: Freight Cost rendah, harga jual eceran ikut melandai.

Tapi rumus itu tampaknya menguap begitu saja untuk kasus semen di Aceh.

Kalau Anda coba tanya ke pihak distributor atau pabrik, jawabannya pasti klasik, normatif, dan seragam. Mirip jawaban ujian siswa sekolah dasar. “Nyan mekanisme pasar, Pak….” “Na gangguan rantai pasok global.” “Harga batubara untuk pembakaran kiln lagi naik.” Atau, “Kapasitas produksi sedang terganggu maintenance.”

Saya sedikit tau bisnis. Saya paham industri. Argumen di atas itu hanya berlaku jika kita bicara soal semen yang diimpor dari Shanghai atau semen diproduksi di Gresik lalu dikirim pakai kapal ke Pelabuhan Malahayati dan di bawa ke daratan Aceh.

Ini barangnya dibuat di Lhoknga, bro…!! hanya 20 menit dari Banda Aceh.

Batu kapurnya dari Lhoknga (bukan impor). Tenaga kerjanya sebagian anak-anak muda lokal, banyak juga dari Teknik Kimia USK (mahasiswa kami). Jalurnya hanya tinggal menggelindingkan truk melewati Kecamatan Darul Imarah atau Peukan Bada, lalu sampai di toko-toko Jalan Teuku Umar atau Lueng Bata. Di mana alasan menguapnya harga hingga ke langit?

Saya duga. Dan ini memang dugaan. Jawabannya ada pada rantai distribusi yang berbelit-belit dan mentalitas bisnis yang tidak punya kepekaan lokal. Semen dari pabrik sering kali tidak langsung menyiram pasar lokal Aceh. Sistem kuota, permainan spekulan di tingkat pedagang perantara (middleman), hingga prioritas pengiriman kapal ke luar daerah (mungkin juga ekspor) membuat pasar domestik Banda Aceh sering mengalami “kelangkaan buatan”. Ketika barang mendadak sulit didapat, hukum pasar liar bekerja: harga dinaikkan semena-mena.

Tukang bangunan menjerit. Warga kecil yang ingin memperbaiki atap rumahnya yang bocor gigit jari. Kawan saya tadi harus stop dulu rencananya. Kontraktor lokal yang memegang proyek-proyek kecil pemerintah daerah megap-megap karena margin keuntungannya tergerus habis gara-gara harga semen floating dahsyat..

Yang membuat saya makin prihatin adalah sikap Pemerintah Daerah. Mengapa mereka terlalu slow melihat warganya tercekik harga komoditas dasar, padahal pabriknya ada di halaman rumah sendiri. Padahal, Pemerintah punya instrumen. Punya regulasi. Punya wewenang. Masa kalah sama mata rantai distributor?

Harusnya ada yang berani pasang badan. Panggil itu manajemen pabrik dan jajaran distributor utamanya. Duduk satu meja. Jangan cuma diplomasi kopi di hotel bintang lima. Tanya baik-baik: Berapa biaya lepas pabrik (ex-mill price)? Berapa biaya angkut ke Banda Aceh? Berapa margin yang diambil agen? Buat aturan semacam DMO (Domestic Market Obligation) Semen untuk Aceh. Tentukan kuota aman untuk kebutuhan lokal Banda Aceh dan Aceh Besar terlebih dahulu dengan harga eceran tertinggi (HET) yang masuk akal dan adil. Setelah kebutuhan warga lokal tercukupi dengan harga murah, barulah sisanya silakan dijual ke luar daerah atau diekspor ke ujung dunia sekalipun.

Prinsipnya sederhana. Seharusnya, rakyat yang menanggung eksternalitas negatif (debu, kebisingan, kerusakan jalan, pengikisan alam), harus menjadi pihak pertama yang menikmati keunggulan ekonominya. Jangan sampai rakyat Aceh hanya dapat bagian debunya, sementara manisnya margin dialirkan ke tempat lain.

Masa rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) korban bencana hidrometeorologi/banjir di Aceh resmi dimulai besok, 1 Agustus 2026. Tentunya semua tau, Aceh membutuhkan ribuan ton semen yang harganya harus terjangkau agar proses rekonstruksi tidak terganggu, dan roda pembangunan masyarakat kelas bawah terus berputar.

Jangan biarkan semen di Lhoknga menjadi ibarat “Ayam mati di lumbung padi”. Pabriknya megah berdiri, tapi rakyat di sekitarnya tak sanggup membeli hasilnya.
Saatnya Pemda bangun dari tidurnya. Saatnya produsen semen kembali melihat ke bawah: melihat tetangga terdekat mereka yang sedang kebingungan membeli satu sak semen yang bahan bakumya diambil dari tanah lelulur mereka…[]

Artikel ini merupakan opini penulis, seluruh isi di luar tanggungjawab redaksi, sepenuhnya tanggungjawab penulis

ya