TEHERAN – Penanews.co.id – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (Parlemen) Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mengatakan bahwa hasil dari persatuan di antara umat Muslim adalah kekalahan musuh-musuh mereka, dan menekankan bahwa keamanan regional yang bergantung pada kehadiran dan intervensi kekuatan eksternal pada dasarnya rapuh.
Dalam pesan yang menandai Pekan Persatuan, Qalibaf mengatakan Iran adalah negeri tempat hidup berdampingan secara damai di antara berbagai kelompok etnis dan komunitas agama, menggambarkan persatuan Sunni-Syiah sebagai lebih dari sekadar slogan simbolis.
“Saat ini, persatuan Sunni-Syiah di Iran bukan sekadar slogan seremonial, tetapi salah satu fondasi kekuatan nasional dan salah satu aset utama negara untuk keamanan dan pembangunan,” katanya dilansir dari Press TV, Minggu (30/8/2026).
Ia menunjuk pada solidaritas berbagai agama dan denominasi selama perang pertama, kedua, dan ketiga yang dipaksakan, dengan mengatakan bahwa semua komunitas telah bersatu dalam kerangka Iran melawan musuh asing.
Qalibaf mengatakan bahwa dunia Muslim sekarang menghadapi pilihan bersejarah, menambahkan bahwa perkembangan di kawasan itu dalam beberapa tahun terakhir telah menunjukkan bahwa negara-negara dan pemerintah Muslim semakin menyadari bahwa kekuatan asing dan musuh-musuh Islam tidak dapat memberikan keamanan yang langgeng bagi kawasan tersebut, juga tidak dapat benar-benar berupaya untuk membangun keamanan tersebut.
“Keamanan yang dibangun berdasarkan kehadiran dan intervensi kekuatan eksternal bersifat rapuh dan bergantung, sedangkan keamanan yang didasarkan pada kemauan negara-negara Muslim dan kerja sama persaudaraan antar negara-negara regional dapat stabil, bermartabat, dan langgeng,” katanya.
Ketua Parlemen mengatakan bahwa tanda-tanda kebangkitan ini dapat dilihat dari munculnya aliansi regional, kerja sama, dan pengaturan baru.
“Aliansi dan pengaturan regional baru dapat menandai awal dari fase baru di mana negara-negara Muslim tetangga mengandalkan kemampuan mereka sendiri alih-alih pihak luar dan memilih jalan kerja sama dan persaudaraan daripada persaingan yang melelahkan,” kata Qalibaf.
Ia menambahkan bahwa hasil dari persatuan Muslim, khususnya dalam perkembangan terkini, adalah “membuat musuh merasakan kekalahan” dan meraih kemenangan berturut-turut dengan menekan balik apa yang disebutnya sebagai posisi dan ambisi kekuatan hegemonik.
Qalibaf menyatakan harapan bahwa dunia Muslim akan kembali lebih kuat pada identitas bersama mereka, sementara ikatan persaudaraan yang lebih erat akan terjalin di antara negara-negara Muslim.
Dia mengatakan bahwa dia berharap kawasan itu akan menyaksikan “fajar era baru persatuan, kemerdekaan, keamanan, dan martabat Islam,” di mana umat Muslim akan menentukan nasib mereka sendiri dan tidak ada kekuatan asing yang mampu menciptakan perpecahan di antara mereka.[]






