IGRC: Tak ada Teknologi Canggih yang Dapat Melewati Pengawasan Iran di Selat Hormuz

by
Juru bicara IRGC, Brigadir Jenderal Mohebbi

TEHERAN – Penanews.co.id – Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), mengklaim bahwa sistem pengawasan dan intelijen Iran di Selat Hormuz mampu mendeteksi seluruh teknologi canggih.

Pernyataan ini disampaikan setelah berhasil mencegat kendaraan bawah air tak berawak (UUV) generasi 2025 milik Angkatan Laut AS pada Rabu (09/09/2026) dini hari.

Kejadian ini disertainya dengan peringatan tegas agar pasukan angkatan laut militer Amerika Serikat segera meninggalkan wilayah Teluk Persia.

Mengutip media Iran Wana,.seorang pejabat dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa tidak ada teknologi canggih yang dapat menghindari pengawasan Iran di Selat Hormuz, menyusul penangkapan sebuah kendaraan bawah air tak berawak (UUV) canggih milik Angkatan Laut AS pada pagi hari.

Juru bicara IRGC, Brigadir Jenderal Mohebbi, menyatakan bahwa pencegatan kapal selam otonom generasi 2025 milik militer AS menunjukkan kekuatan jaringan intelijen dan pemantauan Iran di kawasan tersebut.

“Penangkapan kapal selam tak berawak tercanggih militer AS tahun 2025 pada waktu fajar membuktikan bahwa tidak ada teknologi canggih yang dapat melewati lapisan pengawasan kami di Selat Hormuz,” kata Mohebbi.

Memberikan peringatan langsung kepada pasukan angkatan laut Amerika, ia menambahkan: “Dominasi atas Teluk Persia adalah milik generasi muda kita yang inovatif; kembalilah ke Teluk Babi.”

IRGC minta awak Kapal Tanker di Kuwait dan Bahrain: Segera Tinggalkan Kapal

Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah mengeluarkan peringatan segera kepada awak kapal tanker yang ditempatkan di pelabuhan dan tempat berlabuh di Kuwait dan Bahrain menyusul serangan AS terhadap beberapa kapal tanker minyak Iran.

Angkatan Laut IRGC menyatakan dalam peringatannya bahwa, sebagai tanggapan terhadap tindakan militer AS yang menargetkan beberapa kapal tanker minyak Iran, semua awak kapal tanker di sekitar pelabuhan dan dermaga Kuwait dan Bahrain yang menampung pasukan AS harus segera meninggalkan kapal mereka, baik yang berlabuh di lepas pantai maupun yang bersandar di dermaga.

Pernyataan tersebut memperingatkan bahwa kapal tanker yang masih berada di area tersebut akan menjadi sasaran .

Peringatan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan militer antara Iran dan Amerika Serikat di perairan regional, dengan perkembangan terkini yang menimbulkan kekhawatiran atas keamanan pelayaran komersial dan operasi kapal tanker di Teluk Persia.

ya