JAKARTA – Penanews.co.id— Publik Indonesia dihebohkan oleh prediksi Frankie MacDonald, seorang ahli meteorologi amatir asal Kanada. Ia mengklaim bahwa gempa berkekuatan dengan magnitudo 7,0 hingga 9,0 berpotensi melanda Indonesia sebelum akhir 2026.
Dalam tayangan di kanal YouTube-nya, MacDonald mengingatkan masyarakat, khususnya di Jawa dan Jakarta, agar bersiap menghadapi kemungkinan gempa besar yang disebut dapat menimbulkan kerusakan luas.
Pernyataan tersebut kemudian dikaitkan dengan potensi gempa megathrust yang selama ini menjadi perhatian para ahli kebencanaan di Indonesia.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memang telah berulang kali menjelaskan adanya sejumlah zona megathrust di Indonesia. Namun, keberadaan potensi tersebut tidak berarti gempa besar akan terjadi dalam waktu dekat atau pada waktu tertentu.
BMKG menegaskan hingga saat ini belum ada teknologi maupun metode ilmiah yang mampu memprediksi gempa bumi secara tepat, termasuk kapan gempa terjadi, lokasi pusat gempa, dan kekuatannya.
Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, sebelumnya menjelaskan bahwa istilah seismic gap pada zona megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut tidak dapat dimaknai sebagai tanda bahwa gempa besar akan segera terjadi.
Menurut BMKG, kedua wilayah tersebut memang telah lama tidak mengalami gempa besar. Gempa besar terakhir di Selat Sunda tercatat pada 1757, sedangkan Mentawai-Siberut pada 1797. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan kawasan itu mendapat perhatian dari sisi mitigasi bencana.
BMKG juga menegaskan bahwa informasi mengenai potensi gempa megathrust bukan merupakan prediksi maupun peringatan dini.
Karena itu, masyarakat diminta tidak panik dan tidak menjadikan informasi prediksi dari sumber yang tidak memiliki dasar ilmiah sebagai kepastian mengenai waktu terjadinya gempa.
14 Zona Megathrust
Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, terdapat 14 zona megathrust yang tersebar di wilayah Indonesia. Beberapa di antaranya memiliki potensi magnitudo maksimum di atas 8, termasuk zona Aceh-Andaman, Nias-Simeulue, Mentawai-Siberut, Jawa, Sumba, hingga sejumlah zona di sekitar Filipina.
Zona Megathrust Jawa memiliki potensi magnitudo maksimum hingga 9,1 berdasarkan pemodelan sumber dan bahaya gempa tersebut.
Meski demikian, angka potensi maksimum tersebut merupakan skenario bahaya gempa, bukan ramalan bahwa gempa dengan kekuatan tersebut pasti akan terjadi pada waktu tertentu.
Di tengah munculnya berbagai informasi mengenai potensi gempa besar, masyarakat justru diimbau meningkatkan kesiapsiagaan. Langkah yang lebih penting adalah memahami jalur evakuasi, mengetahui tempat aman, memperkuat bangunan, serta mengikuti informasi resmi dari BMKG.
BMKG sendiri terus melakukan pemantauan aktivitas kegempaan Indonesia secara real time. Pada 9 September 2026, misalnya, BMKG mencatat sejumlah aktivitas gempa di kawasan Selat Sunda, termasuk gempa magnitudo 4,0 pada pukul 13.21 WIB dengan kedalaman 19 kilometer.
Dengan demikian, klaim mengenai waktu terjadinya gempa besar sebelum akhir 2026 sebaiknya tidak diperlakukan sebagai kepastian ilmiah. Potensi gempa memang nyata, tetapi kapan gempa besar akan terjadi hingga kini belum dapat diprediksi secara akurat.







