RPL: Dari Sejarah Menuju Tradisi Akademik

by
Dr. Amiruddin Yahya Azzawiy, MA

Oleh : Dr. Amiruddin Yahya Azzawiy, MA

SETIAP manusia memiliki sejarah pembelajaran yang unik, jauh sebelum memasuki perguruan tinggi. Seseorang telah belajar dari keluarga, sekolah, pekerjaan, organisasi, masyarakat, pelatihan, dan berbagai pengalaman hidup.

Tidak semua pembelajaran lahir di ruang kelas; banyak pengetahuan justru tumbuh dari realitas kehidupan. Sering kali, pengalaman yang dianggap biasa ternyata menyimpan pengetahuan yang luar biasa.

Secara filosofis, masa lalu bukan sekadar sesuatu yang telah berlalu, tetapi jejak pembentukan diri, tempat pengalaman meninggalkan pengetahuan, keterampilan, nilai, dan kebijaksanaan. Karena itu, sejarah tidak hanya untuk dikenang, tetapi perlu dibaca kembali agar dapat memberikan makna bagi masa depan.

Di sinilah Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) memiliki arti penting. RPL menjadi pintu yang mempertemukan sejarah pembelajaran personal dengan tradisi akademik. Pengalaman yang telah dilalui diidentifikasi, dinilai, dan diakui dalam kerangka pendidikan formal sesuai dengan ketentuan akademik.

Namun, rekognisi bukanlah akhir perjalanan, justru menjadi awal untuk memasuki tradisi akademik: membaca secara kritis, menulis secara argumentatif, berdiskusi secara ilmiah, melakukan penelitian, dan menghasilkan pengetahuan.

Pada akhirnya, sejarah bukan sekadar masa lalu yang dikenang, tetapi pengalaman yang direfleksikan untuk membangun masa depan akademik.

RPL adalah kesempatan untuk melanjutkan perjalanan intelektual. Apa yang telah dilalui menjadi pijakan, bukan batas; apa yang telah diketahui menjadi awal, bukan akhir. Sebab, pendidikan sejatinya bukan sekadar mengakui masa lalu, tetapi membuka kemungkinan bagi manusia untuk terus bertumbuh, berpikir, dan menemukan pengetahuan baru.

Penulis Dr. Amiruddin Yahya Azzawiy, MA, Wakil Rektor IAIN Langsa

artikel ini merupakan opini penulis, seluruh isi di luar tanggungjawab redaksi, sepenuhnya tanggungjawab penulis

ya