Dhammavihara Buddhist Studies Gelar Kathina 2570 TB, Gaungkan Toleransi dan Perdamaian untuk Indonesia

by
Yohendy

JAKARTA – Penanews.co.id – Kerukunan antarumat beragama menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga persatuan dan kedamaian bangsa Indonesia. Pesan tersebut mengemuka dalam perayaan Sanghadana Masa Kathina 2570 Tahun Buddhis (TB) atau 2026 yang diselenggarakan Dhammavihara Buddhist Studies di Jakarta.

Ketua Panitia Perayaan Kathina 2570 TB sekaligus Wakil Ketua Pengurus Dhammavihara Buddhist Studies, Yohendy, menegaskan bahwa kehidupan beragama yang harmonis harus dibangun melalui sikap saling menghormati, tidak memaksakan keyakinan, serta memberikan ruang kepada setiap umat untuk menjalankan ajaran agamanya masing-masing.

Menurutnya, agama seharusnya menjadi landasan pembentukan perilaku baik dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika setiap umat menjalankan ajaran agamanya dengan benar dan tidak merugikan orang lain, kehidupan sosial akan semakin damai dan harmonis.

“Kerukunan di antara sesama umat beragama sangat penting karena agama merupakan fondasi bagi kedamaian bangsa Indonesia. Ketika umat beragama hidup rukun dan masing-masing menjalankan ajarannya dengan baik, masyarakat akan menjadi lebih tenang, damai, dan harmonis,” ujar Yohendy.

Ia menambahkan, toleransi tidak cukup hanya disampaikan sebagai slogan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti menghargai perbedaan, menghormati kegiatan keagamaan, serta tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.

“Sebagai umat Buddha, kita harus menghormati agama-agama lain, menghargai cara mereka beribadah, serta menghormati kegiatan keagamaan yang dijalankan. Tidak boleh memaksakan kehendak atau keyakinan kepada orang lain,” tegasnya.

Sanghadana sebagai Gerakan Kebajikan dan Kepedulian

Dalam momentum Kathina tahun ini, Dhammavihara Buddhist Studies juga menggelar Sanghadana sebagai bentuk dukungan umat terhadap kehidupan para anggota Sangha. Praktik berdana tersebut dilaksanakan dengan ketulusan dan keyakinan terhadap Tiratana, hukum karma, serta buah dari perbuatan baik.

Yohendy menjelaskan bahwa Sanghadana bukan sekadar kegiatan seremonial keagamaan. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan bentuk kebersamaan umat dalam mendukung keberlangsungan kehidupan Sangha agar para Bhikkhu dapat terus menjalankan pengabdian dan menyebarkan Dhamma.

Melalui dukungan tersebut, nilai-nilai kebajikan diharapkan semakin berkembang dan memberikan dampak positif, tidak hanya bagi umat Buddha, tetapi juga bagi kehidupan masyarakat secara luas.

1.200 Umat Hadir, Tiga Buku Buddhis Diluncurkan

Perayaan Kathina 2570 TB diperkirakan dihadiri sekitar 1.200 umat Buddha dari berbagai kalangan. Panitia sendiri telah menyiapkan kapasitas tempat duduk untuk sekitar 1.300 orang.

Selain Sanghadana, kegiatan tersebut juga diisi dengan peluncuran tiga buku karya dan terjemahan dari Sangha. Kehadiran buku-buku tersebut diharapkan memperkuat literasi Buddhis, mendukung keberlangsungan Buddha Sasana, serta memperluas pemahaman masyarakat terhadap ajaran Buddha.

Yohendy berharap karya-karya tersebut dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi muda dan menjangkau pembaca yang lebih luas, termasuk masyarakat di luar komunitas Buddhis.

Ia juga menyoroti semakin dikenalnya praktik meditasi oleh berbagai kalangan sebagai salah satu bentuk ketertarikan masyarakat terhadap nilai-nilai spiritual dan kebijaksanaan dalam ajaran Buddha.

Agama Harus Membawa Kedamaian bagi Sesama

Menutup keterangannya, Yohendy berharap perayaan Kathina dapat menjadi momentum memperkuat kesadaran bahwa keberagaman bukan penghalang untuk membangun persatuan.

Ia mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menjadikan nilai-nilai agama sebagai pedoman dalam membangun kehidupan yang saling menghargai, menjaga persaudaraan, dan menghindari tindakan yang merugikan sesama.

“Harapan kami, kerukunan antarumat beragama di Indonesia tetap terjaga. Setiap umat dapat menjalankan agamanya dengan baik tanpa merugikan orang lain, sehingga masyarakat hidup tenang dan damai, serta Indonesia semakin maju dan berkembang,” tutupnya.[Rifqi]